Jadi Kartunis, Apa Bisa Kaya?

Kisah Para Kartunis (8)

Jadi Kartunis, Apa Bisa Kaya?

Firda Puri Agustine - detikHot
Senin, 30 Des 2013 16:42 WIB
Jadi Kartunis, Apa Bisa Kaya?
Dok. Firda Puri Agustine/ detikHOT
Jakarta - Sebatang rokok hampir habis dihisap Jitet Kustana di warung kopi dekat Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu akhir pekan lalu (28/12/2013).

Kartunis senior Harian Nasional Kompas ini tertawa ketika muncul pertanyaan, apakah dengan jadi profesi yang ia jalani itu, seseorang bisa kaya dan beli apa saja?.

"Ha..ha. Kaya atau miskin itu kan relatif ya. Kartunis bisa jadi sangat mapan kalau jam terbangnya sudah tinggi atau sering menang lomba, atau punya pekerjaan sampingan. Asal kreatif, rejeki datang sendiri," kata Jitet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengaku cukup puas dan bersyukur melakoni profesi tersebut selama hampir 25 tahun. Ya, karena pria 46 tahun ini memang mengawali karir dari ikut kompetisi internasional.

"Ikut kompetisi biar belajar. Pertama kali kalah, lalu belajar gimana biar menang. Indonesia punya talenta-talenta hebat yang enggak kalah sama di luar negeri," ujarnya.

Sementara itu, Apat Supriyono yang memulai karir profesional di media bilang, dirinya bahkan pernah diberi honor hanya Rp 7 ribu.



"Dulu malah pernah dikasih honor Rp 7 ribu. Tapi, ya itu tahun 90-an. Kalau sekarang honor kartunis freelance paling besar Rp 200 - Rp 250 ribu," kata Apat.

Bapak satu anak itu melanjutkan, perkara apakah profesi kartunis menjanjikan secara finansial tergantung pada pengalaman dan jam terbang.

Apat sendiri membanderol karya sesuai profil pemesan. Misal yang memesan adalah seorang pejabat, maka harga yang ditawarkan tidak mungkin sama dengan pemesan biasa.

"Kalau saya tergantung klien. Kadang kalau teman yang minta, harganya ya harga teman. Enggak mungkin orang kaya dikasih harga rendah banget. Begitu juga sebaliknya, enggak mungkin kasih harga kemahalan buat orang biasa. Ya, disesuaikan-lah," ujarnya.

Kalau menurut Hendricus David Arie, soal rejeki ada kavling masing-masing. Bisa jadi, kartunis yang karyanya belum pernah muncul di media justru lebih mapan dibanding mereka yang tahunan kerja di media.

"Ada hokinya sendiri juga sih ya. Kalau yang muda itu sekali ikut lomba terus juara, ya mungkin saja dia lebih kaya kan? Tapi, tergantung jam terbang sama background media juga. Kalau sudah senior dan dari media besar, enggak usah tanyalah ya. he..he," kata David.

(fip/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads