Bapak satu putra ini bilang, dirinya tidak pernah bercita-cita jadi apa dan siapa. Mengalir saja seperti aliran air. Selepas lulus SMA, Apat yang ingin bekerja dengan imbalan hasil cepat.
"Tapi, saya memang hobi gambar dari kecil. Kalau dipikir-pikir dari SMP saya sudah jadi kartunis. Jadi kartunis gampang, hanya modal kertas dan spidol," kata Apat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apat juga pernah bekerja di sejumlah media cetak ternama sebelum akhirnya memilih bekerja di penerbitan buku saat ini.
Satu kebiasaan yang tak pernah hilang adalah membawa kertas dan pulpen di saku celana. Bukan untuk menggambar, tapi mencatat ide-ide yang kerap datang mendadak.
"Tiap detik itu inspirasi bagi saya. Makanya kemana-mana bawa kertas sama pulpen biar ingat ide yang selintas muncul. Takut lupa kan sayang," ujarnya.
Pria 30 tahunan ini tidak menargetkan berapa karya yang harus dibuat dalam jangka waktu tertentu. Yang penting, harus terus berkreasi agar eksistensi tetap terjaga.
"Kayak pisau saja kalau enggak diasah kan tumpul. Untung di PAKARTI ada banyak agenda yang memotivasi untuk terus berkarya," kata Apat.
(fip/utw)










































