Tarian dibuka oleh penari tunggal pria memakai sarung berwarna biru memasuki panggung. Gerakannya lambat, pelan, dan menggeliat laiknya bayi baru lahir. Namun, ia luwes mengikuti alur tubuhnya.
Di akhir, ia menuruni panggung dan berbaur dengan penonton. Seakan, sang penari ingin menggunakan area penonton juga sebagai panggung mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alunan musik Betawi masuk, kesyahduan tarian yang tadinya magis dan lambat berubah dengan keriangan. Mereka menari dengan menggoyangkan pinggul ke kanan dan kiri.
Sesekali pinggulnya menggoda penonton. Tarian pun terasa kocak, lincah, ceria, laiknya remaja bersenda gurau. Magisnya tarian para penari DLDC kembali tersedot ketika empat penari pria menarikan tarian khas Ponorogo.
"Garapan kali ini kami terinspirasi dari karya Pak Dedy sebelumnya yang berjudul 'Tanah yang Hilang' yang menceritakan tanah di Kalimantan yang sudah kehilangan tradisi," kata sang sutradara, Wiwiek H.Suryani kepada detikHOT Kamis (19/12/2013) lalu di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat.
Wiwiek yang juga menjadi koreografer tarian Betawi ini juga memikirkan apa makna dari sebuah kehilangan dan bagaimana nafas serta percikan emosional dari tarian.
Kemudian, ia mengajak koreografer muda murid dari Dedy Lutan lainnya. Mereka adalah Siti Suryani dan Bayu Prasetyan. "Tadinya mau berikan pentas masing-masing, tapi akhirnya kami coba kolaborasikan dengan pengait-pengait tarian di tiap adegan," ujarnya.
Ide dasarnya dari garapan ini adalah kehilangan. Ketiga koreografer ini pun memulai pentas dengan fase kelahiran ketika gerakan menggeliat. Ini menunjukkan adanya seni tradisi ketika lahir.
Ketika gerakan mulai cepat, itu merupakan fase remaja yang energik. Dengan adanya sosok ibu yang melahirkan para penari, mereka memberikan apresiasi kepada Elly Lutan. "Masuk ke percikan emosional, masuk dua penari dari Solo. Kekuatan mereka teknik kontemporer tapi akarnya tetap tradisi," jelas Wiwiek.

Di akhir, tarian magis khas Kalimantan menjadi penutup. Menurutnya, ini adalah fase ketika perlawanan antara kontemporer dan tradisi, tapi tari tradisi tetap yang menang.
Dedy yang tahun lalu mengalami stroke ketika sedang mengunjungi daerah terpencil tersebut, menari dengan magisnya. Keriangan kembali muncul ketika generasi-generasi muda Dedy Lutan Dance Company muncul dan memasuki panggung.
"Jalan ini memang tua, dan kita pun masih setia melewatinya...", begitu bunyi penggalan sajak Yanusa Nugroho di garapan kali ini.
(tia/utw)











































