Jalan panjang ini dilaluinya dengan konsisten dan jerih payah. Berbagai daerah terpencil di Indonesia sudah dijelajahinya. Sebut saja Sumbawa, Banyuwangi, Jawa hingga ke pedalaman Kalimantan sudah dilakoninya.
"Indonesia ini sangat kaya, suku bangsa ada 600an lebih. Dari sekian ratus itu tentu saja seni tari tradisi, rupa, ukiran dan sebagainya. Kekayaan ini tak pernah habis dan harus kita jaga," katanya di GKJ Rabu malam (18/12/2013) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Murid dari maestro tari Jawa Ki Condrolukito ini pun mendatangi setiap daerah dari asal tari tradisi tersebut berada. Bahkan menurut kawannya Slamet Rahardjo, hutan Kalimantan sudah akrab dengan Dedy.
"Hutan itu sama pendiamnya dengan Dedy. Ia bisa meresapi apa yang ada di hutan dan mengubahnya menjadi gerakan tari," kata Slamet Rahardjo kepada detikHOT di GKJ Kamis (19/12/2013) lalu.
Hal yang sama juga dikatakan koreografer Bayu Prasetyan, 30 tahun. "Saya mendapatkan teori dan praktik di ISI Surakarta. Tapi belajar dengan alamnya yah dengan Pak Dedy," katanya.
Bahkan ia rela mengikuti dan tinggal bersama di Dedy Lutan Dance Company di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan selama lima tahun. Sepanjang itu, Bayu juga diajak meneliti seni tradisi di tiap daerah. "Ketika kita ke Banyuwangi, kita belajar apa itu Gandrung. Ke Kalimantan juga sama begitu," katanya.

Sebagai seorang penari, Dedy sering mengikuti misi-misi kesenian Indonesia ke mancanegara. Ia juga melakukan pementasan dari para penata tari seperti Sardono W.Kusumo, Farida Faisol, Yulianti Parani, S.Kardjono, I Wayan Diya, dan Retno Maruti.
Sedangkan khusus untuk studi penelitian tari tradisi, Dedy pergi ke Nias, Dayak, Kalimantan Timur, Aceh, Minang, Batak, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan sebagainya.
Setelah pementasan ulang tahun, DLDC yang ke-23, Dedy sudah menyiapkan rencananya melanjutkan pendidikannya di tingkat master dengan tesis seputar tradisi asal Kalimantan.
(tia/utw)











































