Namun itu tak terjadi pada para penulis yang bergabung dalam penerbit GagasMedia, Bukune, dan PandaMedia. Minggu (22/12/2013) kemarin mengadakan acara Kumpul Penulis dan Pembaca 2013 (KPP 2013) di Galeri 678 β Kemang, Jakarta Selatan.
Dalam acara tersebut, para pembaca mendapat kesempatan untuk tak sekadar mengenal para penulis buku favorit tapi juga menyerap ilmu penulisan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada kurang lebih 35 orang penulis yang terlibat dalam acara ini. "Kami sendiri dari tiga penerbit itu punya sekitar 500 penulis dengan sekitar 250 yang masih aktif menulis," kata Mudin EM.
Mudin EM tak menampik jika ajang yang sebagian besar pengunjungnya adalah anak-anak muda ini memang diarahkan untuk menjaring penulis baru. "Ya memang ada rencana menjaring penulis baru juga. Ini semacam workshop juga tapi caranya beda," katanya.
Dia menyatakan dengan mempertemukan pembaca jadi bisa bertanya dengan bebas kepada penulis tentang trik mereka berkarya. "Diarahkan pembaca untuk belajar satu genre penulisan dan membangun karakter," kata Mudin EM.
Mudin EM mengatakan menjaring penulis baru ini juga sejalan dengan cara penerbitnya untuk meluncurkan satu genre baru setiap tahun. "Tapi ada tanggung jawab mensosialisasikan dan mengedukasi pembaca dulu," katanya.
"Kami enggak bisa sekadar bilang kami butuh naskah begini. Ya masak nyuruh orang nulis, nggak ngajarin tapi kok mau dapat naskah," kata Mudin EM. Setidaknya dengan acara ini, calon penulis sudah tahu genre apa yang akan ditawarkan tahun depan dan bagaimana arah penulisannya.
Mudin EM menyebut khusus dari tiga penerbitnya tahun depan akan menjadi tahun untuk romance relationship, fairytales dan woman's secret. Tentang kisah cinta bukan lagi cerita orang mengejar cinta tapi tentang hubungan yang mapan dan woman's secret itu yang pemeran utamanya wanita.
"Sementara untuk fairytales adalah mengangkat cerita lama dengan konteks sekarang. Cerita rakyat punya template yang sama, yang beda plotnya, unsur magisnya berubah," kata Mudin EM.
'Penetapan' tren genre buku ini menurut Mudin dilakukan dengan dua cara. Yakni melihat selera pembaca dan melihat tren di luar negeri. "Tapi apa yang terjadi di luar negeri bisa jadi juga enggak terjadi di dalam negeri mungkin karena enggak sesuai dengan budaya kita. Jadi kita lihat mana yang bisa kita kembangkan di Indonesia."
(utw/utw)











































