Mengenang Peristiwa Penjarahan Tahun 1998 Lewat Mural Kepala Binatang

Festival Cikini 2013 (4)

Mengenang Peristiwa Penjarahan Tahun 1998 Lewat Mural Kepala Binatang

Tia Agnes Astuti - detikHot
Senin, 16 Des 2013 11:20 WIB
Mengenang Peristiwa Penjarahan Tahun 1998 Lewat Mural Kepala Binatang
Adi Kaniko dan muralnya (Tia Agnes Astuti/detikHOT)
Jakarta - Peristiwa yang terjadi tahun 1998 masih membekas di ingatan seniman Adi Kaniko, 47 tahun. Saat itu, ia baru saja merantau ke Jakarta dari Surabaya.

"Saya melihat dengan mata kepala sendiri orang membakar dan menjarah seenaknya. Liar sekali seperti binatang," katanya kepada detikHOT Sabtu (14/12/2013) lalu.

Lantaran dari peristiwa itulah, pria yang akrab disapa Adi mulai membuat kepala dari objek yang dilukis dengan menyerupai binatang. Serta kepala manusia yang selalu berbentuk aneh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kini, setelah reformasi berakhir, Adi tetap menggunakan objek tersebut. Khusus, di Festival Cikini tahun ini ia membuat mural dengan gambar penguasa besar dan rakyat kecil.

Penguasanya berbentuk kepala babi, dan kepala-kepala rakyat kecil yang berbentuk macam-macam. Ia memberinya judul 'Urban Culture' sesuai dengan tema kegiatan.

"Kenapa penguasa besar harus menghancurkan yang kecil. Padahal apa yang dilakukannya semena-mena," kata lulusan dari Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan (IKIP) Surabaya ini.

Namun, jika tokoh yang dilukisnya berkarakter baik, maka bentuk kepalanya akan seperti manusia pada umumnya. Ciri khas lainnya dari karyanya adalah penggunaan warna hitam dan putih.

Menurut Adi, menggunakan hitam putih dan tanpa memberikan warna di tiap lukisannya adalah alami. "Hitam putih itu bisa bercerita. Jadi orang tertarik melihatnya karena gambar, berbeda dengan warna," katanya.

Sejak setahun lalu, Adi bergabung dengan kelompok perupa bernama Saka Warna. Serta terdiri dari Aidil Usman, Ile Sale, Krisna Eta, Fauzan Musaad, Herman Widianto, Hudi Alfa, dan Ridwan Manantik.

Tahun lalu, mereka sudah pameran bersama yang berjudul 'Provokasi Urban.' Sebelumnya ia sudah pernah mengikuti pameran seni rupa CP Open Biennale 'Interpelation' (2003), Biennale Yogyakarta VIII 'Di sini dan Kini' (2005), dan sebagainya.





(tia/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads