DetikHot

art

Tukang Sapu Bioskop Membuka Jalan Jadi Sutradara

Rabu, 11 Des 2013 09:18 WIB  ·   - detikHOT
Tukang Sapu Bioskop Membuka Jalan Jadi Sutradara (dok. Pribadi)
Jakarta - Kiki Febriyanti, Sutradara muda film dokumenter Indonesia ini secara spontan menceritakan bagaimana awalnya ia tertarik membuat film.
Salah satu film dokumenternya yang berjudul \\\'Jangan Bilang Aku Gila!\\\' telah menang di sebuah festival internasional di Ukraina.

\\\"Aku dari kecil suka nonton film di bioskop. Dulu rumahku di kampung dekat dengan dengan bioskop,\\\" tuturnya kepada detikHOT (06\/12\/2013).

Jangan bayangkan bioskop seperti yang ada di mal-mal besar di Jakarta. Bioskop di kampung Kiki dulu hanya menggunakan kursi rotan yang kadang ada kutu busuknya. Hanya ada sebuah ruang pemutaran dan memungut biaya Rp. 2500 untuk sekali pertunjukan.

\\\"Dulu aku sering ngintip-ngintip nonton kalau pulang sekolah. Kalau penjaganya lagi bersih-bersih kita tuh dibolehin masuk.\\\" Rutinitas ini ia jalani sampai duduk di bangku SMP. Dengan tontonan itu, ia berpikir bagaimana cara gambarnya ada di sebuah layar.

Sat itu Kiki sudah bertekat ingin menjadi sosok di balik layar dari film-film yang dinikmati oleh masyarakat. Namun ketertarikan untuk menuturkan cerita lewat film, mulai surut, seiring bangkrutnya bioskop di kampungnya.

\\\"\\\"

Cita-cita pun berganti ingin menjadi seorang wartawan. Baik menjadi pembuat film maupun wartawan, sebenarnya apa yang Kiki sukai adalah menuturkan cerita kepada orang lain.

Namun karena beberapa alasan, ia mengambil sekolah kejuruan Farmasi dan sempat bekerja di apotik. \\\"Enggak kuat aku, setiap hari nangis, akhirnya daftar kuliah,\\\" jelasnya. Ia kuliah di Universitas Negeri Jember jurusan Sastra Indonesia.

***

Beruntung, pada tahun 2008, ada sebuah pendaftaran loka karya pembuatan film dari In-Docs di kampusnya. Ia menuliskan proposal yang rencananya akan dieksekusi menjadi film.

Cerita Kiki adalah mengenai orang yang terkena gangguan jiwa di kampungnya, jadi salah satu yang terpilih.

\\\"Aku sudah tahu lama ceritanya, karena ibuku itu mengajar di SD, SD tersebut dekat dengan pesantren untuk mengobati orang-orang yang terkena gangguan jiwa.\\\" Dalam film dokumenter berdurasi 18 menit ini, Kiki menggunakan dua tokoh untuk jadi pengantar.

Proposal dari proyek film ini lolos dan disetujui untuk diabadikan menjadi sebuah film. Riset mendalam kembali dilakukan dan ia mulai proses syuting pertamanya. Produksi film ini memakan waktu sekitar tiga bulan.

\\\"\\\"

Dalam film ini ia mengisahkan dua subjek pasien. Yang satu tentang pasien dari Jakarta, keluarganya bisa dibilang membuang dia ke pesantren itu. Subjek lainnya perempuan yang sudah sembuh, dan kini telah menikah dan punya anak.

\\\"Tadinya ada satu subjek yang mau aku jadikan tokoh utama, tapi perempuan ini sudah sembuh dari pesantren itu dan bekerja di sebuah tempat. Jadi dia takut ketahuan sama bosnya kalau dia mantan pasien disana, dia takut kehilangan pekerjaan. Jadi aku cari lagi,\\\" jelasnya.

Film ini masuk ke salah satu kompilasi film dari In-Docs dan tak disangka akhirnya menang dalam kategori Best Director di STEPS International Film Festival, 2013.









(ass/utw)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed