Itulah suasana yang terbayang dari pementasan teater berbahasa Jawa oleh Teater Lungid di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, Sabtu dan Minggu (7-8/12/2013). Lungid adalah kelompok teater yang merupakan nama baru dari Teater Gapit, grup teater modern berbahasa Jawa yang telah vakum dari aktivitas panggung setelah pimpinannya, Bambang Widoyo Sp wafat beberapa tahun lalu.
Hampir semua awak Gapit bergabung di Lungid, dan beberapa kali mereka telah menggelar pementasan di bawah payung baru itu. Namun, ada yang istimewa dari pertunjukan dua malam pada akhir pekan lalu itu. Lungid seolah menegaskan tekadnya untuk tidak hanya peduli pada 'diri sendiri'. Mengusung semangat regenerasi, seluruh pemain anak-anak muda, sebagian besar mahasiswa dan pelajar yang benar-benar masih 'hijau' di dunia pertunjukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus dilatihkan dan dibiasakan kepada mereka, jangan sampai bahasa Jawa ini nantinya punah karena sudah tidak ada lagi yang bisa mengucapkannya. Sekarang ini saja anak-anak muda sudah semakin banyak yang tidak bisa fasih berbahasa Jawa, lama kelamaan bisa jadi kesulitan mengucapkannya dan akan meninggalkannya," ujar Pelok dalam pengantar pertunjukan.
Karena itulah selama dua malam itu seluruh anggota senior Lungid memilih tut wuri handayani, di belakang memberikan dorongan atau arahan. Salah satu aktor senior Budi Bayek memilih mengurusi produksi, dan Trisno Pelok sendiri duduk di barisan pemusik. Demikian juga anggota senior lainnya seperti Wahyu 'Inong' Widayati, Atik Hengky, Sri Setyowati, Lestari Cempluk (empat sekawan yang sekarang mendirikan grup Sahita), semua duduk di barisan pemusik. Mereka 'rela' dipimpin oleh penata musik 'belia', Gendut Dwi Suryanto, mahasiswa ISI Surakarta.
Lakon yang dipentaskan adalah 'Gundala Gawat' karya Goenawan Mohamad yang diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Jawa oleh Trisno Pelok. Pementasan itu disutradarai oleh Djarot Budi Dharsono, aktor gaek eks Gapit. Pemilihan cerita maupun garapan sepertinya memang didekatkan dengan selera anak muda, atau setidaknya lebih diakrabi oleh anak-anak muda.
Tokoh-tokoh dalam cerita itu adalah para tokoh hero dalam kartun yang mengalami kegundahan luar biasa menghadapi situasi karena para penjahat yang harus diberantas telah sedemikian sistematis berlindung di balik sistem kenegaraan. Para perampok itu kini merupa parpol-parpol dan lembaga-lembaga yang telah disahkan keberadaannya oleh negara.
Digarap penuh gelak tawa sehingga penonton dan pemain merasa nyaman dengan pertunjukan panjang berdurasi 2,5 jam. Djarot juga membiarkan atau sengaja menampilkan bermacam logat dan dialek bahasa Jawa sesuai daerah asal pemainnya. Ada logat Solo, logat pesisiran, logat Purwodadi, logat Banyumasan, dan lain-lainnya. Yang penting mereka nyaman dan akrab dengan bahasa Jawa. "Kita membutuhkan latihan selama 3 bulan," kata Djarot.
Gelak tawa pun kadang muncul ketika mereka mengolok-olok kemampuan mereka sendiri dalam berbahasa Jawa. Kadang-kadang terjadi salah paham antartokoh karena penggunaan bahasa yang sudah jarang dipakai di percakapan umum sehingga cenderung arkais. Misalnya para tokoh memperdebatkan kata 'sesinglonan' (penyamaran) atau kata 'pradondi' (pertikaian).
Setidaknya selama 2,5 jam itu, Djarot dan para senior Teater Lungid telah membekali dan menguji kemampuan panggung para yuniornya. Setidaknya selama tiga bulan terakhir, para senior itu memberi kesempatan penerusnya untuk mempertajam kemampuan akting dan berbahasa Jawa. Lungid secara harafiah memang berarti tajam. Teater ini ingin terus mempertajam dan menancapkan peran di dunia panggung maupun wilayah kebudayaan yang membesarkannya.
(mmu/mmu)











































