Minimalkan Naskah Saduran, FTJ 2013 Dorong Teater Gunakan Teks Karya Sendiri

Festival Teater Jakarta 2013 (3)

Minimalkan Naskah Saduran, FTJ 2013 Dorong Teater Gunakan Teks Karya Sendiri

Tia Agnes Astuti - detikHot
Senin, 09 Des 2013 11:32 WIB
Minimalkan Naskah Saduran, FTJ 2013 Dorong Teater Gunakan Teks Karya Sendiri
Teater 24, peserta FTJ 2013. (Tia Agnes Astuti/detikHOT)
Jakarta - Di setiap penyelenggaraan Festival Teater Jakarta setiap tahunnya, selalu memiliki tema khusus yang sudah ditetapkan oleh Dewan Kesenian.

Menurut ketua project officer FTJ 2013, Manahan Hutauruk yang menjadi tema besarnya adalah 'Membaca Aku, Membaca Laku'. Namun sejak tiga tahun lalu, sudah ada subtema yang menjadi ketentuan bersama.

Pada 2011 silam yakni 'Membaca Lingkungan', tahun 2012 'Membaca Tradisi', dan tahun ini yakni 'Membaca Teks'. Di tiap subtema, ada tujuan dan harapan masing-masing dari penyelenggara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di teks ini diharapkan mereka memakai karya naskah buatan sendiri, atau minimal pengarang asli Indonesia. Tidak boleh saduran terjemahan karya asing," ujarnya.

Mengapa? Pasalnya di festival teater sebelumnya pernah banyak grup teater yang menyadur dari karya asing. Alhasil, seperti minim kreativitas dari karya sendiri.

"Waktu subtemanya pendekatan lingkungan, karya itu masih dikekang dengan karya asing. Sama halnya dengan Tradisi, pembacaan teksnya masih bercampur dengan asing tapi sudah mulai beragam," ujar Manahan yang pernah mengikuti Teater Populer (1997), Teater Siluet (1998), dan Teater Koma (2001).

Dengan menggunakan karya sendiri, Dewan Kesenian berharap mereka akan mampu bersaing dengan karyanya sendiri. Uniknya dari beberapa wilayah, banyak grup teater yang lolos dengan buatan naskah pribadinya.



"Di Jakarta Selatan, tiga grup lolos karya sendiri. Sama halnya dengan di Jakarta Barat, di Utara ada satu grup, di Timur juga satu grup," ujarnya.

Pembacaan teks di panggung, kata dia, merupakan penilaian utama. Selanjutnya adalah pemanggungan ketika pentas.

Namun, jika ditanyakan lebih baik mana, karya buatan sendiri atau pengarang Indonesia yang sudah ternama? Menurutnya, dewan juri tetap saja akan menilai plus karya naskah yang buatan sendiri.



"Aku selalu menggunakan karya sendiri di tiap pentas Teater SIM dan Teladan, bukan berarti anti dengan pengarang Indonesia. Tapi dengan begitu bisa menilai kemampuan para pemain," ujar Manahan.

Serta, Manahan optimis juara satu grup terbaik tahun ini adalah yang menggunakan karya sendiri. Tahun ini, dari tingkat penyeleksian wilayah totalnya ada 65 grup yang mendaftar da 37 naskah menggunakan karya sendiri.

"Sepuluh naskah lainnya sudah sendiri. Itu sebuah peningkatan," ujar pria yang grup teater binaannya sudah dianggap senior sejak 2001 silam.



(tia/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads