Di bagian awal pameran, patung-patung setengah badan dengan segala rupa ada di sana. Seperti karya berjudul '..the Best', 'Dreaming', 'Lola', 'Miss Ovum', dan lainnya.
Namun, ketika mencapai bagian tengah ruangan, terdapat tiga patung setinggi tubuh manusia. Patung tersebut terlihat kontras dibandingkan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanita yang akrab disapa Liliek ini mengatakan karya yang dibuatnya tahun ini sengaja menggunakan sayap di punggungnya. Di 'Hesitate' ia menangkap ada kesan keraguan untuk terbang.
"Kenapa dia justru mencengkam tanah kuat-kuat? Saya bertanya ini terus menerus hingga akhirnya ada satu refleksi pada patung ini," katanya.
Liliek menemukan jawaban yakni patung itu harus segera terbang dan lahan tempat berpijak kian sedikit. Sedangkan dalam 'Keep Looking' ia memasukkan setiap bentuk, warna, dan sensasi dari ekspresi visualnya.
Pengalaman bermain di spektrum warna ini didapatkannya dari pameran bersama 12 Pas di Galeri Nasional (Galnas) yang bertajuk 'Wall Fiction' tahun lalu.
Ia berhasil membuat patung 'Nocturnal' dengan cat akrilik warna fluorescent yaitu warna yang semakin menonjol di bawah lampu ultra violet. Efeknya menjadi dramatis, seolah patung sedang diterangi sinar bulan.
"Berdiri di tengah-tengah, seperti berada di dunia antah berantah yang temaram, dan secara misterius menyembunyikan keindahan fantastisnya," katanya.
Pameran bertajuk 'Pulp Fiction' ini dibuka sampai 15 Desember mendatang. Silahkan berkunjung dan rasakan ketakjuban terhadap karya-karya Amalia Sigit.
(tia/utw)











































