Juga ada pendatang dari Suku Bugis dan pendatang lain seperti dari Pulau Jawa dan Pulau Makassar. Suku Bajou sendiri, memiliki bahasa yang lestari dan tetap digunakan penduduk dalam kesehariannya, disebut dengan bahasa Sama-Bajou
Sementara menurut informasi dari penduduk juga, diketahui bahwa Suku Bajou ini merupakan keturunan dari Filipina. Suku Bajou sendiri, mayoritasnya beragama Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***
Kini, keturunan Suku Bajou masih bertahan, terutama di pulau yang baru saja dijelajahi oleh detikHOT, yakni Pulau Maratua dan Pulau Derawan. Banyak diantara mereka yang sudah menjadi suku campuran, karena adanya pernikahan dengan warga dari suku lain.
Namun, perbedaan suku-suku ini sama sekali tidak menjadi konflik di pulau nan eksotis ini. Bahkan mereka bisa hidup toleran dan berdampingan dengan para perantau, seperti Ayah dari juru kunci di danau, bernama Sujono.

Ayahnya merupakan perantau dari Jawa yang hendak bertolak ke Tarakan. Namun di tengah jalan kapalnya karam, dan ia terdampar di Pulau Maratua. Menikahi warga dari suku Bajou dan menetap hingga wafat disana.
Begitu juga yang dialami oleh perantau asal Mataram, Lombok. Pria bernama Muhammad Safar ini datang ketika Pulau Derawan masih sepi, tidak banyak yang menghuni pulau ini. "Dulu saya merantau, awalnya ke Surabaya dulu langsung ke Sulawesi, kemudian Malaysia. Akhirnya saya pulang ke Indonesia lewat Tarakan, kemudian masuk Berau dan tiba di Derawan," ujarnya (28/11/2013).
Hidup di Pulau Derawan, ketika belum banyak wisatawan berkunjung, ia berprofesi sebagai nelayan.
"Disini kita cari hasil laut, seperti ikan Kerapu untuk dijual, dulu harga jualnya Rp. 250 - Rp. 2 ribu." Ia pun menikahi penduduk setempat, yang merupakan keturunan dari Suku Bajou. Pesan dari orang tuanya, di Mataram ketika ia hendak merantau adalah, untuk senantiasa jujur di kampung orang.
(ass/utw)











































