Mengusung tajuk "Membaca dan Menulis Kembali Lakon-Lakon 70-an", IDRF 2013 akan dibuka Selasa (3/12) besok dan berlangsung hingga Kamis (6/12/2013). Acara digelar setiap pukul 18.30 hingga 10.30 WIB.
Menurut Penata Program IDRF Gunawan Maryanto, festival pembacaan naskah-naskah lakon berbahasa Indonesia ini merupakan upaya untuk mengenalkan naskah-naskah lakon terbaru Indonesia kepada publik yang lebih luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sedikit berbeda dengan penyelenggaraan IDRF tahun-tahun sebelumnya, kali ini IDRF mengundang sejumlah penulis bukan untuk menulis lakonnya sendiri melainkan menulis kembali lakon-lakon pilihan IDRF. Hasilnya tetap akan sama, lakon-lakon baru yang dibacakan oleh kelompok-kelompok pembaca pilihan IDRF.
Lakon-lakon pilihan ini dihasilkan dari sebuah penelitian atas lakon-lakon tahun 1970-1979 yang tersimpan di Bank Naskah Dewan Kesenian Jakarta. Untuk itu, IDRF di Jakarta tahun ini bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi bagian dari Festival Teater Jakarta.
Penulis-penulis yang diundang dalam IDRF 2013 adalah Afrizal Malna dengan lakon berjudul 'Di Luar 5 Orang Aktor', Andri Nur Latif dengan lakon 'Yuni', Esha Tegar Putra dengan lakon 'Malin-Malin', Ibed Surgana Yuga dengan lakon 'Para Agung', dan Shinta Febriany dengan lakon 'Ummu dan yang bersembunyi di Balik Cemburu'.
Diklaim sebagai festival pertama di Indonesia yang menampilkan pembacaan dan promosi naskah lakon secara terencana dan lebih komprehensif, IDRF digelar sejak 2010. Acara ini terus mendapatkan dukungan tak hanya dari kalangan penulis lakon, kelompok teater dan penikmat teater, melainkan juga dari lembaga-lembaga yang peduli dengan perkembangan lakon teater Indonesia seperti Lontar Fondation, IFI, Japan Fondation, dan Yayasan Kelola.
Tahun ini IDRF mendapat dukungan dari Program Hibah Karya. Kota penyelenggaraan IDRF pun terus berkembang, mencakup Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta dan Lampung.
(mmu/mmu)











































