Dulu Nama Anak-anak Suku Bajou Diambil Dari Alam, Kini Dari Televisi

Jelajahi Kekayaan Budaya Pesisir Kalimantan Timur (3)

Dulu Nama Anak-anak Suku Bajou Diambil Dari Alam, Kini Dari Televisi

Astrid Septriana - detikHot
Senin, 02 Des 2013 11:46 WIB
Dulu Nama Anak-anak Suku Bajou Diambil Dari Alam, Kini Dari Televisi
Kampung Bohe Bukut yang bersih dan asri (Astrid Septriana/detikHOT)
Jakarta - Berjalan menyusuri perkampungan Bohe Bukut di Pulau Maratua, kita akan melihat karakter khas rumah dari papan kayu terhampar di sisi kiri dan kanan jalan.

Ada yang unik ketika detikHot beberapa kali menyapa warga yang tengah duduk di teras rumah. Dua orang anak perempuan tengah bermain, ketika ditanya siapa namanya, gadis kecil berkulit sawo matang menjawab Marina. Satunya lagi menjawab Isabel.

Ketika malam menjelang, detikHOT beruntung bisa mengobrol santai dengan seorang penduduk asli Bajou. Wilson, 30 Tahun banyak bercerita tentang legenda kampung halamannya dan bagaimana banyak budaya setempat yang berubah oleh gerusan zaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan cuma soal asal kata nama Pulau Maratua yang unik saja. Bahkan nama kampung Bohe Bukut pun ada sendiri kisahnya.

"Bohe Bukut, ini diambil dari istilah mengambil air di belakang bukit. Bohe itu artinya air, bukut itu artinya belakang," ujarnya (24/11/2013). Penduduk itu dulunya harus melintasi bukit setiap kali hendak mengambil air.

Kampung Payung-Payung yang sempat kami jelajahi juga memiliki artinya sendiri. Ini diambil dari sebuah batu karang besar berbentuk seperti payung yang terletak di mulut pantai desa ini.

***

Jika nama desa masih bertahan dalam tradisi setempat, ternyata tak demikian halnya dengan nama anak-anak suku Bajou saat ini.
Nama-nama yang agak kebarat-baratan seperti Isabela, Marina, Jeremy, menurut Wilson juga bukan nama asli setempat.



"Nama-nama penduduk disini kita enggak ada patokan, tapi ini karena pengaruh modern dengan adanya televisi saja."

Dulu, nama-nama nenek moyang di pulau ini diambil dari nama pohon atau binatang. Misalnya Elang, Lengko, Pote, Taba.

"Kalau sekarang, kita lihat televisi, bingung mau kasih nama siapa, jadi kita ambil dari televisi," tuturnya.

Wilson sendiri bisa dibilang masih keturunan orang yang berpengaruh di pulau ini. Moyangnya memiliki gelar PB atau Punggawa Budiman.

Namun kini, menurutnya gelar-gelar itu sudah tidak memiliki banyak pengaruh di masyarakat. Ia adalah keturunan ke-enam di suku Bajou.

Untungnya bergesernya kebiasaan memberikan nama anak tak terlalu mempengaruhi penggunakan bahasa asli setempat. Bahasa asli Suku Bajou masih lestari dan digunakan aktif di keseharian penduduk.

Meski generasi mudanya juga sudah sudah diajari bahasa Indonesia. Agar mereka tidak memiliki masalah komunikasi dengan para pendatang, atau tenaga medis bila tengah berobat.

Tapi bila bertemu sesama penduduk asli anak-anak dan remaja masih fasih menggunakan bahasa asli mereka.



(ass/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads