Legenda Manusia Setengah Iblis Dari Pulau Maratua

Jelajahi Kekayaan Budaya Pesisir Kalimantan Timur (1)

Legenda Manusia Setengah Iblis Dari Pulau Maratua

- detikHot
Senin, 02 Des 2013 09:18 WIB
Legenda Manusia Setengah Iblis Dari Pulau Maratua
Cantiknya pesisir Kalimantan Timur (Astrid Septriana/detikHOT)
Jakarta - Nama Pulau Derawan, bisa dibilang sudah mendunia, terutama di kalangan para penyelam. Tapi ternyata, Derawan tak sendirian.

Ini detikHOT temukan kala mendapat kesempatan menjelajah pulau-pulau atas undangan bupati Berau dan Sangalaki Manta Paradise yang ada di bawah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini.

Ternyata Derawan punya beberapa tetangga pulau lain yang tak kalah cantinya. Seperti Maratua, Sangalaki dan Kakaban yang tak kalah cantiknya alamnya, meski tak berpenghuni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedikit berbeda dengan Pulai Maratua yang sama cantiknya dan masyarakat penghuninya punya sejarah panjang tentang kehidupan dan budaya mereka sendiri.

Berikut laporan detikHOT mengenai pondasi kebudayaan dan bagaimana fungsinya dalam keseharian masyarakat di wilayah pesisir Kalimantan Timur ini.

***




Pulau Maratua, bisa dicapai dengan perjalanan laut selama hampir tiga jam dari Tanjung Selor, Berau. Atau sekitar satu jam tiga puluh menit dari Pulau Derawan.

Di pulau ini terdapat penduduk dari Suku Bajou dan tersebar di 4 kampung. Dua yang kami susuri adalah Desa Bohe Bukut dan Desa Payung-Payung.

Penasaran dengan nama Pulau Maratua, detikHOT berjumpa denga seorang warga yang punya pengetahuan cukup banyak tentang tanah kelahirannya itu.

Wilson, 30 tahun menjelaskan bahwa nama Maratua itu diambil dari kata Masak Tuba.
Konon, di pulau itu dulu tinggal makhluk yang disebut Kokok, begitulah warga sekitar menamainya.

"Kokok adalah makhluk separuh manusia dan separuh iblis. Ia mengambil para perempuan disini untuk dinikahi," jelas Wilson kepada detikHOT (24/11/2013).

Warga mulai gelisah sekaligus geram dengan keberadaan Kokok di kampung mereka. "Kita memasak air tuba ini seperti air susu, untuk meracuni Kokok."

Kokok sendiri dikisahkan tinggal di sebuah Goa, yang sampai kini Goa tersebut masih eksis, namanya Goa Kabok.

Suatu ketika, ketika ada seorang suami yang melaut dan meninggalkan istrinya dirumah. Kokok menculik sang istri dan ini menjadi puncak kegeraman warga.

"Akhirnya semua orang masak tuba, kita kan sudah tahu goanya dimana, akhirnya si Kokok meminum racunnya dan ia mati," ujarnya.

***



Hingga kini, ritual ke goa masih diterapkan oleh warga, secara simbolis. Artinya hanya dilakukan per orangan tidak berkelompok dan hanya pada momen tertentu. Misal bila ada anggota keluarga yang tertimpa musibah, seperti sakit.

"Sekarang ini secara simbolis ritualnya masih dilakukan, karena kita kalau enggak melakukan itu, nanti kena. Istilahnya anak bisa jadi sakit-sakitan-sakitan. Kita tanya ke tetua disini, nanti kita diingatkan belum melakukan ritual."

Mereka bisa melakukannya dirumah, menyediakan sesajian selama tiga hari. Ia pun menekankan ritual ini bukan untuk menduakan keesaan Tuhan. Ini dilakukan karena alasan ritual yang diwariskan oleh para leluhurnya.

"Saat ritual ini dilakukan, nanti tetua kita seperti kerasukan jin. Omongannya kita hanya coba mengartikan, karena bahasa jin. Jadi kita tak terlau paham tapi kadang mengerti juga kalau pas dengan suatu kejadian."

(ass/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads