Minim Ilmu, Penenun NTT Sering Bingung Ditanya Harga Jual Kainnya Sendiri

Anugerah Alam Di Secarik Tenun Alor (7)

Minim Ilmu, Penenun NTT Sering Bingung Ditanya Harga Jual Kainnya Sendiri

Firda Puri Agustine - detikHot
Rabu, 27 Nov 2013 17:07 WIB
Minim Ilmu, Penenun NTT Sering Bingung Ditanya Harga Jual Kainnya Sendiri
dok. Firda/DetikHot
Alor -

Halaman rumah jabatan Bupati Simeon Thobias Pally di Kalabahi, Alor, Nusa Tenggara Timur, Rabu (21/11/2013), mendadak ramai oleh 200 penenun.

Mereka mengerjakan kain tenun ukuran selendang bersama-sama. Hari itu, pemerintah pusat dan daerah sedang bikin hajatan festival serat dan warna alam SWARNAFest 2013.

DetikHot sempat berkeliling memperhatikan para mama (ibu-ibu penenun di NTT biasa dipanggil mama) membuat kain. Meski warna alam menjadi tagline, namun tak sedikit yang memakai warna sintetis. Ya, tak apa. Karena gerakan mengangkat pewarnaan alami memang baru saja dimulai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sekian banyak kain terhampar, mata ini tertuju pada satu kain berwarna paduan hijau indigo dan kuning. Yang berbeda, warnanya tidak begitu mencolok seperti yang lain.

Mama Ariance, si penenun, bilang, dia memakai seluruh benang dengan celupan warna alam dari pohon nila untuk hijau indigo serta kunyit sebagai penghasil warna kuning. Oh, pantas saja. Kain ini terlihat istimewa.

Tapi, ketika ditanya berapa harganya, wanita berusia 38 tahun tersebut hanya tersipu malu. Sampai tiga kali mendapat pertanyaan yang sama, dia baru menjawab. Itu pun mesti ditanyakan dulu pada mama-mama di sampingnya.

"Kata teman saya, kalau warna alam biasanya dijual Rp 150 ribu," kata Mama Ariance.

Dia tidak sendiri. Mama Syamsia Basir Jonu juga terlihat bingung menentukan harga untuk kain berukuran 2,5 meter yang memakai pewarna alam dari teripang.

"Berapa ya? Kira-kira Rp 500 - Rp 600 ribu-lah. Saya bisa kasih Rp 500 ribu," ujarnya.

Hal seperti inilah yang sering membuat Profesor Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung pemerhati kajian tekstil serta pewarnaan alam, Biranul Anas prihatin.
Bagaimana tidak, NTT merupakan salah satu surga tenun di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi sangat besar. Namun, belum dikelola secara maksimal.

"Biar bagaimanapun warisan budaya tidak bisa dipisahkan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau begini kan artinya mereka tidak tahu bagaimana mau memasarkannya, berapa harga yang pantas dijual, dan sebagainya," kata Anas.

Menurutnya, untuk membuat tenun NTT berkembang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mengingat bahwa daerah ini bukan satu-satunya penghasil tenun ikat. Diperlukan persaingan agar melecut motivasi menjadi yang terbaik.



Nah, memunculkan daya saing tentu harus difasilitasi dengan sarana serta prasarana yang memadai. Terutama pendidikan. Sedangkan, mayoritas penenun NTT belajar secara otodidak, turun temurun dari nenek moyang.

"Sebelum bicara kemana-mana, sejujurnya, adakah sekolah khusus kain? Tidak ada. NTT adalah pusat tenun ikat nasional, tapi tidak punya sekolah kain," ujarnya.

Sekolah kain yang dimaksud tidak harus mewah dan menawarkan jenjang sarjana hingga doktoral. Cukup diploma satu dan dua saja. Yang penting, mereka mendapatkan ilmu dan pembinaan yang tepat.

"Sekolah ini penting sekali untuk memberikan mereka pengetahuan dan wawasan. Nah, ini PR pemerintah pusat dan daerah, lho. Kalau saya, saya bersedia kok mengajar di sini kalau perlu," kata Anas.

(fip/fip)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads