Pekan lalu selama dua hari, 20-21 November 2013, detikHOT hadir di Alor bersama Kementrian Perindustrian dalam rangka Festival Serat dan Warna Alam 2013 (SWARNAFest 2013).
Ini adalah bagian dari rangkaian ajang Indonesia Fashion Week 2014 dan upaya mendorong Indonesia menjadi pusat mode dunia pada 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak hal unik detikHOT temui saat berkunjung ke pusat tenun Alor yang memakan waktu perjalanan 8 jam dari Jakarta itu.
Lelah akibat perjalanan dengan dua pesawat -- pesawat besar dan perintis -- itupun tak terasa mengingat kayanya oleh-oleh cerita tentang tenun Alor dan bagaimana masyarakat setempat mempertahankan tenun sebagai produk budaya asli mereka ini. Berikut paparannya.
***
Matahari sedang sangat terik di Desa Ternate Umapura, Alor Besar, Nusa Tenggara Timur, Kamis (21/11/2013). Anak-anak bermain di pelataran. Sementara ibu-ibu yang biasa dipanggil 'mama' sibuk menenun.
Di salah satu rumah milik Sariat Lebana, para mama berkumpul. Ada yang merapikan kain, ada yang memeriksa rendaman warna alam, ada juga yang masih memetik kapas.
Desa ini adalah salah satu basis tenun yang ada di Alor. Kain yang mereka buat kebanyakan bukan kain biasa. Ya, karena berawal dari kapas, bukan benang pabrik.
"Pohon kapas ada dimana-mana, bisa di setiap rumah ada. Jadi, itu kapas dibuat jadi benang, benang jadi kain," kata Mama Sariat.
Memetik kapas sudah jadi kegiatan rutin warga di sana. Tentu dengan proses yang cukup unik, yakni sambil menyanyikan 'mantra' khusus agar kapas tersebut berubah menjadi benang yang bagus.

Kira-kira begini petikan liriknya, 'kapas kapas menjadi benang, benang itu menjadi kain, angan-angan menjadi teman, teman itu menjadi suami'. Lagu ini dinyanyikan berulang-ulang sambil memelintir kapas hingga sempurna jadi benang.
Tangan tiap penenun seolah tersihir. Kapas yang mereka pegang pun bisa dengan cepat berubah menjadi benang yang siap untuk dicelup warna dan ditenun. Wow!
"Sambil petik (kapas) sambil nyanyi. Biar semangat, biar cepat jadi benang. Itu nyanyian sudah tradisi dari nenek moyang," ujarnya.

(fip/utw)











































