Namun itu dulu. Kini dengan mudah kita bisa menikmati sajian tarian yang sama dari para penari yang tak lain adalah anak bangsa sendiri.
Salah satu sekolah yang membuat balet jadi kenyataan di Indonesia adalah Namarina. Nama sekolah ini perlu dicatat dalam perkembangan sejarah balet di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini sekolah balet Namarina telah menginjak usia ke-57 tahun dan inilah laporan lengkap detikHOT mengenai sekolah balet tertua di Indonesia yang saat ini sedang melakukan pementasan tahunannya.
***
"Namarina itu sekolah balet pertama di Indonesia, dulu namanya sekolah balet dan gerak badan," ujar Maya Tamara, Direktur Namarina, ditengah-tengah kesibukannya mempersiapkan pementasan.
Sekolah ini didirikan pada tahun 1956 oleh almarhumah Nanny Lubis. Ketika itu, murid di sekolah balet ini baru lima orang siswa.
"Kemudian dengan kegigihannya dan passion-nya sekolah ini berkembang. Awalnya penyebarannya dari mulut ke mulut saja."
Kepada detikHOT, ibu dua putera ini menjelaskan, bahwa mulai tahun 1965, muridnya sudah mulai berjumlah ratusan orang.
Waktu itu Namarina berada di Jl. Cimahi, Menteng, Jakarta Pusat. Nanny Lubis ketika itu tidak mengemban pendidikan balet yang formal. "Beliau belajarnya dari seorang guru balet asal Belanda," kata Maya.
Maya menjelaskan bahwa ibunya justru awalnya hanya suka olahraga dan memiliki dasar sebagai atlet. Khususnya lempar cakram dan lompat jauh.
"Lalu karena muridnya sudah mulai banyak, ia mengambil kursus pendek di beberapa negara seperti Belanda, Amerika Serikat."
Kisah ibundanya ini membuat Maya yakin bahwa tidak selalu yang bernilai akademik itu lebih sukses dari yang non-akademik. Semua akan kembali ke kedisiplinan, kemauan dan kegigihan seseorang.
***
Maya sendiri mulai menggeluti balet sejak usia lima tahun. Karena Maya merupakan anak perempuan satu-satunya, sang ibu bercita-cita suatu hari Maya bisa mewarisi dan menggantikan perannya di Namarina.
Maya disekolahkan balet di London selama kurun waktu 1976 hingga 1981, "Mungkin karena beliau enggak mengenyam pendidikan khusus di bidang ini, maka muncullah cita-citanya," ujar Maya.
Sepulang dari London, Maya membantu sang ibu untuk menjadi tenaga pengajar. Kemudian tahun 1987, Maya diangkat menjadi Direktur Artisitk Namarina.
Sepeninggal ibunya, tahun 1993, Maya meneruskan Namarina sampai sekarang, "Jadi sudah sekitar 20 tahun ya."
(/)










































