Panelis yang diundang di antaranya seniman Moelyono (Indonesia), kurator organisasi seni CasCo, Sanne Oorthuizen (Belanda), Jimmy Ogonga (Kenya), dan Khaled Jarar (Palestina). Ada sekitar 30 orang yang hadir.
"Tema yang diangkat hari ini sangat seni rupa. Untuk melihat apa seni bisa berperan dalam perubahan sosial dan gimana keterkaitan antara seni rupa dengan aktivisme," kata Afra Suci Ramadhan, salah satu pendiri organisasi Pamflet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam komunitas nelayan, dia banyak berinteraksi dengan kalangan anak-anak. Kegiatannya menggambar dengan pasir pantai. Karya tersebut dipamerkan di desa setempat dan mengundang berbagai reaksi masyarakat. Terutama karena ada muatan kritik terhadap mandor kepala.
"Saya ingin membuktikan bahwa anak-anak bisa membuat karya seni. Anak-anak atau siapapun punya hak untuk berkarya, bahwa karya tersebut juga contemporary art, dan anak-anak desa juga berhak untuk berpameran," ujarnya.
Tak hanya seniman lokal, kurator dari organisasi CasCo, Belanda, Sanne Oorthuizen merasakan hal yang sama. Meski negerinya terbilang mapan, ia bersama organisasinya banyak mengkritik keadaan sosial dan ekonomi dengan menggarap karya yang terkait masalah tersebut.
Pada gelaran Jakarta Biennale 2013, dia memamerkan karya berjudul Entanglement. karya ini merepresentasikan CasCo sebagai sebuah jaringan yang erat berhubungan dengan masyarakat. Bukan sekadar institusi seni.
"Saya berharap dalam jangka panjang ini dapat memfasilitasi bagaimana sebuah organisasi seni semestinya berperan, dan jika bisa, mempengaruhi sistem nilai yang ada di dalam masyarakat," kata Sanne.
(ass/fip)











































