Diskusi ini menggandeng kalangan seniman, generasi muda dan akademisi untuk menyoroti secara kritis perkembangan seni rupa di Indonesia dan bagaimana perbandingannya dengan belahan dunia lain.
Kali ini detikHOT sajikan liputan lengkap dari program yang berjalan mulai 11 hingga 13 November 2013 di Ruang Parkir Bawah Tanah, Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rangkaian diskusi publik dalam perhelatan Jakarta Biennale kali ini dimotori oleh organisasi pemuda bernama Pamflet. Dengan itu, munculah tiga topik diskusi yang menarik untuk diikuti berbagai kalangan.
Topik tersebut antara lain 'Proyek Seni Rupa dan Gagasan Perubahan Sosial', 'Spekulasi Ruang, Strategi Warga dan Negara' dan 'Eksperimentasi Institusi Pendidikan Seni Rupa'.

"Salah satu misi yang paling jelas dari Jakarta Biennale adalah untuk membuat seni itu dekat dengan publik, seni itu bagian dari publik," ujar Afra Suci Ramadhan, salah satu pendiri organisasi Pamflet, kepada detikHOT (15/11/2013).
Menurut Afra, diskusi ini ditujukan untuk menjawab banyak pertanyaan soal pergerakan seni yang berjalan di bawah naungan Jakarta Biennale kali ini.
"Mungkin ada pertanyaan seperti, 'Emang kayak gini nih seni ya?," kata Afra. Untuk menghalau kebingungan publik akan apa sebenarnya seni itu, maka penyelenggara Biennale juga menyisipkan acara bincang seniman ini.
Isi diskusi publik ini adalah untuk menjawab seputar pertanyaan itu. "Juga tentunya untuk melihat bagaimana seniman itu berproses."
Diskusi yang terbuka untuk umum ini, juga diharapkan mampu membuat publik paham akan posisi mereka dalam ranah pergerakan seni. Afra mengatakan, Pamflet dipilih panitia Biennale bukan tanpa alasan.
"Karena kami punya jaringan ke organisasi anak muda terutama di Jakarta, juga kuat dalam sisi wacana karena kami bergerak dalam bidang kajian anak muda," kata Afra.
Pamflet melihat kecenderungan seni kontemporer di Indonesia kini terbagi dua, ada yang fokus ke pasar namun juga ada yang coba berkontribusi ke publik.
"Keberpihakan ke publik ini yang dilihat juga oleh panitia Jakarta Biennale bahwa Pamflet punya potensi untuk menggarap diskusi ini."
(utw/utw)











































