Sama halnya seperti celengan babi yang terbuat dari tanah. Celengan tersebut berada di Ruang Majapahit sejak Museum Nasional ada.
Ia adalah terakota pada abad ke-14-15 Masehi dan ditemukan di Trowulan, Jawa Timur. Mengapa sebuah celengan bisa dijadikan cerita?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu ia menjelaskan di masa kerajaan Majapahit, bentuk celengan paling populer adalah celeng atau dikenal babi liar.
Karena saking terkenalnya, masyarakat sering memanggilnya sebagai celengan. Sedangkan di Inggris, kata ini disebut sebagai piggie bag. "Karena mereka memanggilnya dengan piggie yang dalam bahasa Inggris pig juga berarti babi," ujarnya.
Dari sebuah artefak celengan babi tersebut, pihak penyelenggara tertarik untuk mengambil kisah mengenai celengan Majapahit.
"Orang kalau melihat celengan saja di ruangan, itu hanya sebatas benda. Tapi kini celengan Majapahit itu jadi lebih hidup," kata Direktur Akhir Pekan di Museum, Yudhi Soerjoatmodjo kepada detikHOT.
Berbagai artefak yang dipilih merupakan hasil diskusi semua pihak. Yudhi menjelaskan jika pengembangan naskah, akting para pemain, hingga properti panggung menjadi tanggung jawab dari Teater Koma.
"Di sini itu banyak sekali artefak, kalau kita gali semuanya pasti ada banyak artefak. Keramik kapal yang tenggelam, sebuah sepeda, pedang pangeran, dan lainnya pernah dibuatkan naskah," ujarnya.
Ke depannya, Karamnya Kapal Tek Sing akan kembali dipentaskan pada 24 November mendatang. Tertarik?
(tia/utw)











































