"Ini buku yang dikerjakan super kilat. Selama dua minggu saya kerjakan, komunikasi via Skype, nulis satu minggu dan revisi satu minggu," katanya saat peluncuran bukunya di Universitas Indonesia Rabu (13/11/2013) lalu.
Menulis kisah inspiratif orang lain merupakan suatu hal yang baru bagi Angkie. Wanita yang mendapatkan penghargaan Kartini Next Generation dari Kementrian Komunikasi dan Informatika mengatakan prosesnya tak mudah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya wawancara peneliti yang di Yogyakarta berangkat pukul 8 pagi dan pulang jam 5 sore. Itu sudah seperti orang berangkat kerja saja," ujarnya sambil tertawa.
Tantangan lainnya yang didapatkan Angkie adalah keterbatasan ia mendengar. Suatu kali, ia pernah wawancara seorang peneliti melalui skype. Sayangnya, jaringannya sedang tak stabil.
"Akhirnya, dilakukan melalui telepon tapi saya kurang jelas mendengarnya," kata Angkie. Kemudian, ia meminta bantuan indera pendengaran dari tim L'Oreal-UNESCO.
Akhirnya, buku 'Setinggi Langit' sebanyak 158 halaman tersebut berhasil dirampungkannya. Ia mempersembahkan buku tersebut bagi para wanita Indonesia yang sudah berjuang dan mencintai dunia pendidikan.
(tia/utw)











































