"Konsep ruang publik ini sudah kami konsepkan sejak lama, tapi baru terealisasi pelaksanaannya awal 2012 lalu," kata Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation di Galeri Indonesia Kaya beberapa waktu lalu.
Renitasari mengatakan selama ini kegiatan seni dan budaya tanpa memungut biaya serta berlokasi di pusat perbelanjaan ibukota, hampir tak ada sama sekali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisa dibilang, kata dia, Galeri Indonesia Kaya adalah satu-satunya ruang publik yang menyatukan antara edutainment dengan kecanggihan teknologi modern. Seperti beragam aplikasi yang dapat ditemukan di dalam galeri ini.
Di antaranya Sapa Indonesia yakni ucapan salam ketika memasuki galeri. Kedua, video mapping mengenai salah satu lakon di wayang, yang dikemas dengan pencahayaan tiga dimensi. Ketiga, Ceria Anak Indonesia yaitu permainan tradisional congklak yang dibuat modern dengan layar sentuh.
Serta beragam aplikasi pengetahuan lainnya seperti Kaca Pintar Indonesia, Jelajah Indonesia, Selaras Pakaian Adat, Melodi Alunan Daerah, Selasar Santai, Layar Telaah Budaya (surface), Arungi Indonesia, Area Peraga dan Fantasi Tari Indonesia.
Galeri yang bertempat di West Mall lantai 8 Grand Indonesia atau yang bersampingan dengan Blitz Megaplex ini dilengkapi dengan panggung sebesar 13 x 3 meter dan tiga buah screen. Serta dilengkapi projector utama 10.000 lumens dan projector pendukung 7000 lumens, tata lampu LED berjumlah 35 yang menghasilkan efek dramatis.
"Ruangan ini sebelumnya tidak berbentuk amphitheater, saya sengaja mengasih tugas ke arsitek untuk membuatnya jadi teater. Hasilnya menakjubkan dan kapasitasnya bisa 150 orang," ujarnya.
Sejak diluncurkan pertunjukan seni dan budaya di galeri ini, khususnya hari Sabtu dan Minggu sampai Desember mendatang, sudah terdapat jadwal yang bisa Anda tonton. Renitasari menegaskan semuanya gratis, bisa dipesan di situs maupun di lokasi hari H.
"Hingga akhir Desember di prime time kami, sudah ada jadwal pertunjukan dari kelompok-kelompok seni yang sudah kami kurasi. Minimal pertunjukannya 1,5 jam dengan tema yang berbeda," ujarnya.

Tak hanya itu saja, kata dia, nantinya akan ada workshop fotografi, pelatihan membatik, diskusi seni budaya, pemutaran film, dan sebagainya.
Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno kepada detikHOT mengatakan setelah teaternya berdiri, ia pun pernah memimpikan membuat teater dengan kapasitas 150 orang. Menurutnya, itu adalah jarak yang ideal antara seniman di panggung dan penonton.
"Itu yang pas. Saya membayangkan ada galeri-galeri ini di setiap wilayah Jakarta dan sekitarnya," ujarnya. Jika Anda ingin menonton pertunjukan seni, budaya, musik, dan film secara gratis dan berkualitas, singgahlah di galeri ini tiap akhir pekan. Berminat?
(tia/utw)











































