"Jadi seru banget ya karena saya bisa nyoba banyak permainan tradisional Indonesia lebih simpel dan menyenangkan," kata Anissa.
Wanita berusia 24 tahun ini menyambut positif berbagai acara atau instalasi seni yang hadir dalam sebuah pusat perbelanjaan. Apalagi, jika ada tempat khusus seperti Galeri Indonesia Kaya tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mal bukan lagi sekadar tempat berbelanja, juga sebagai fasilitas edukasi yang dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap kesenian dan budaya bangsa sendiri. "Kalau semua mal ada semacam Galeri Indonesia Kaya ini, saya yakin kesenian dan kebudayaan Indonesia enggak bakalan punah," ujarnya.
Hal senada diungkapkan Jerry Ramasha, 19 tahun. Mahasiswa jurusan seni rupa Institut Kesenian Jakarta ini lebih senang jika pameran lukisan diadakan di mal.
Bukan lantaran dirinya anak gaul yang suka nongkrong di sana, tapi mendukung pelestarian budaya yang kini hampir ditinggalkan masyarakat urban. Kemasan seni kreatif diyakini mampu menarik minat serta kecintaan mereka.
"Kalau pameran seni atau lukisan digelar di mal, orang awam akan lebih bisa menikmati karya itu sendiri dibanding kalau pameran diadakan di museum atau satu galeri yang terkesan 'berat' dan serius," kata Jerry.
Beda lagi dengan pendapat Niki Danayasa, 25 tahun. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta itu menilai, ketertarikan terhadap seni bergantung pada masing-masing orang, bukan tempat digelarnya pameran.
Instalasi seni dalam mal berdampak positif selama hal tersebut mampu menumbuhkan rasa keingintahuan yang lebih dalam mengenai seni atau budaya yang dipamerkan.
"Sesuai fungsinya saja, mal kan tempat belanja. Tujuan utama orang ke mal kan buat belanja atau hang-out. Kalau ada instalasi seni, bagus sih. Tapi, kalau bisa jangan hanya buat dilihat selewat saja. Harus dibikin yang benar-benar kreatif," ujar Niki.
(fip/utw)











































