Wajah Palestina Di Dunia Seni Fiksi Ilmiah

Wajah Palestina Di Dunia Seni Fiksi Ilmiah

Utami Widowati - detikHot
Senin, 11 Nov 2013 13:05 WIB
Wajah Palestina Di Dunia Seni Fiksi Ilmiah
Jakarta - Topik pembicaraan tentang Palestina versus Israel itu soal serius. Demikian pula kala mencoba bicara dunia distopian atau fiksi ilmiah. Maka ketika seniman Larissa Sansour mengaduk adonan karyanya dari konflik Palestina dan Israel dalam balutan video fiksi ilmiah kesannya menjadi sesuatu yang santai tapi tetap menohok.

"Orang selalu mengharapkan Palestina dibicarakan secara politis dan dengan cara yang serius," kata seniman Larissa Sansour seperti dikutip Huffington Post. "Tak ada yang mengharapkan membicarakan topik ini dengan cara santai."

Itulah yang membedakan Sansour dengan seniman lainnya. Dia menghadirkan karyanya yang berjudul 'Science Faction' ini di galeri Lawrie Shabibi, Dubai awal bulan ini hingga esok hari (12/11/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam videonya Sansour bermain-main dengan referensi seni pop Amerika, potongan futurisme dan satu dosis yang pas dan sopan dari komedi. Seniman perempuan kelahiran Jerusalem dan berkewarganegaraan Palestina menggambarkan masa depan Palestina dengan fantastik.



Dalam karyanya yang berjudul 'Space Exodus' Sansour menggambarkan seseorang yang sedang menancapkan bendera Palestina di bulan. Sansour seperti hendak menggambarkan hubungan Israel dan Palestina yang masih suram. Bahkan di dunia paralel dimana astronot Palestina sudah bisa sampai ke bulan.

"Secara langsung ini menggambarkan betapa sampai di bulan itu lebih mudah dicapai dibanding menggapai Jerusalem," kata Sansour.

Tak seperti 'Space Exodus', 'Nation Estate' menggambarkan kejadian di bumi. Dimana gedung-gedung tinggi yang kompleks dan ruwet dibangun sebagai rumah-rumah masa depan orang Palestina.

Tampaknya bangunan ini memberi suasana damai, namum sebenarnya terlalu steril dimana tembok-tembok berfungsi untuk membatasi interaksi manusia.



"Ada sisi positif dari 'Nation Estate'. Tak ada tempat pemeriksaan, semua orang bisa saling mengunjungi dari satu kota ke kota lainnya hanya dengan elevator," kata Sansour. "Ini adalah ejekan jika Anda memikirkannya -- tinggal di pencakar langit sangat distopian pada akhirnya."

'Nastion Estate' sebenarnya bukan karya baru Sansour. Cikal bakalnya muncul tahun 2011 karya ini sempat hampir meraih penghargaan yang digagas oleh MusΓ©e de l’ElysΓ©e. Tapi kemudian Lacoste yang terlibat dalam penghargaan tersebut menyebut karya Sansour terlalu 'pro Palestina'.

Skandal itu lalu membuat Sansour menemukan ide yang dibuatnya diam-diam, tentang proyek video percakapan internasional antara kelompok elit intelektual dan pembicaraan di media sosial.

"Bukan hanya dunia seni yang marah. Aku menerima email dari banyak orang yang akhirnya mengembalikan barang yang mereka beri dari Lacoste," kata Sansour.

"Sangat luar biasa mendapatkan respon sebesar ini bahkan sebelum Anda mengerjakan proyek berikutnya. Sejujurnya, saat aku mulai punya ide ini, aku tak melihat ada hal yang bakal kontroversial. Hanya karena skandal ini aku jadi bisa melihat ide besar dari sisi sensitifnya dan membentuk detil pada film berdasarkan karya terdahulu."



Detil akhir dari film 'Nation Estate' menggambarkan antara fakta dan fiksi. Sansour seperti membuat negara Palestina baru yang dikembangkan dengan penggunaan fiksi ilmiah yang klise -- seperti ruang hidup sebuah klinik rumah sakit, lengkap dengan seragam dan makanan masa depan.

Uniknya dunia rekaan Sansour ini cukup akrab buat orang yang menyimaknya, menggabungnya isu yang sedang dihadapi warga Palestina dan Israel saat ini. Seperti pemisahan geografis dalam satu keluarga, dan ketidakmampuan untuk menyeberang dari satu wilayah ke wilayah lain tanpa harus melapor pada polisi.



Sansour punya rencana untuk melanjutkan karya berserinya ini. Kali ini dia akan membuat tentang peran arkeologi dalam konstruksi dan rekonstruksi sejarah Israel.

Dia ingin mengubur porselen yang berisi penanda budaya orang Palestina di Israel. Dia akan membuat semacam 'artefak' arkeologi untuk ditemukan di masa depan.

"Apa yang terjadi di Palestina adalah jeda besar proses hak asasi manusia. Tapi faktanya orang sudah mulai imun terhadap apa yang sebenarnya terjadi," kata Sansour menyimpulkan. "Bahkan saya sendiri -- Saya tak bisa melihat berita dan merasa benar-benar terlibat. Dunia semakin imum dan konflik disana sudah mencapai tahap buntu. Kita perlu mengangkat topik ini lagi dengan cara yang berbeda. "









(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads