Program Publik Jakarta Biennale - Siasat (8)

Bio Bemo, Siasati Kemacetan Ibukota Di Jakarta Biennale 2013

- detikHot
Jumat, 08 Nov 2013 16:53 WIB
Dok. Tim Dokumentasi Jakarta Biennale 2013
Jakarta - Apa yang akan Anda lakukan untuk melestarikan bemo di Jakarta tanpa adanya polusi? Ya, hal ini yang dicoba dilakukan oleh lulusan desain grafis Enrico Halim sejak 2008 lalu bersama organisasi bernama Aikon.

Mereka membuat program bernama revitalisasi bemo. Dua tahun lalu, Aikon memutuskan membuat bemo listrik. Alasannya?

Jika ditelisik dari sejarah bemo, sejak 1996 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan undang-undang soal keberadaan bemo, yang dicoret dari ibukota. Padahal hingga 2008, masih ada 500 pengemudi bemo yang menggantungkan hidupnya di sana.

Bemo listrik ini dibuat secara swadaya dengan dana urunan. Latar belakang para pembuatnya pun tidak ada yang berasal dari jurusan teknik, mekanik maupun elektro.

"Kita aktif bertanya di forum-forum mobil listrik," ujarnya kepada detikHOT (05/11/2013) di Pasar Seni, Gelora Bung Karno, Senayan.



Mulai Februari 2013, Bio Bemo mulai diperkenalkan kepada para pengemudi bemo di Jakarta, seperti di Bendungan Hilir dan Karet. Tak banyak respon positif yang diberikan para pengemudi bemo, karena mereka anggap investasinya terlalu mahal.

"Mahal di baterai, kalau baterai yang sekarang kami pakai itu hibah dari teman." Sekali pengecasan, baru bisa mencapai sekitar 30 kilometer, sementara para pengemudi bemo memerlukan 100 lebih kilometer per hari.

Namun dari sisi efisiensi, mereka bisa jauh lebih hemat. Karena dengan bensin dan oli, para pengemudi bisa menghabiskan sekitar Rp 79 ribu perhari sementara dengan tenaga listrik ini hanya menghabiskan sekitar Rp 5 ribu per hari.



Selain itu, bio bemo juga menjanjikan tidak adanya polusi udara dan suara. Sosialisasi ini terus diupayakan tim bio bemo. Mereka pun coba mengajukan Kredit Usaha Kecil (KUK) ke Bank DKI. Syaratnya, bemo harus legal, sementara ini sudah dihapus sejak 1996.

Perjuangan belum selesai, Enrico dan timnya mulai melakukan pendekatan ke pihak Pemerintahan ke Gubernur DKI Jakarta dan wakilnya, Jokowi dan Ahok. Tanggapannya bisa dibilang masih abu-abu. lalu melakukan audiensi ke Dinas Perhubungan (Dishub) DKI.

"Mereka mau bantu bemo dimasukkan ke kawasan wisata, tapi kami tolak, karena kawasan wisata itu cuma Sabtu dan Minggu. Lalu, Senin sampai Jumat mereka dapat apa?" Kata Enrico. Kemudian mereka ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan tetap belum ada tanggapan.

Titik terangnya adalah banyak komunitas lain yang ikut mendukung kehadiran bio bemo. "Bio bemo ini bukan ngomongin bemo listrik, tapi karena terkait dengan kehidupan pengemudi bemo dan keluarganya. Bio bemo diperkenalkan ke komunitas juga meski kami mencari solusi, bukan bearti kami yang paling tahu segalanya," ujarnya.

Selain itu, ada juga pengemudi bemo bernama Pak Kinong, yang mau ikut membantu menjalankan kendaraan listrik ini.

"Pak Kinong sudah narik bemo sejak tahun 1970-an. Ketertarikannya mungkin karena dia capek karena sudah terlalu banyak masalah, spare parts bemo juga semakin langka dan mahal."

Sehari-hari, bila sedang tidak digunakan untuk program Jakarta Biennale seperti sekarang bio bemo bersama Pak Kinong jalan di trayek Sudirman-Stasiun Karet.

Kegiatan Enrico ini yang ditangkap oleh tim riset Jakarta Biennale 2013, di bawah naungan Ade Darmawan untuk diajak berpartisipasi dalam program publiknya.

"Ade mengajak kita ikutan karena ia melihat sebuah produk. Sebuah karya yang tahu ada hukum, tapi coba bersiasat agar tetap bisa jalan. Jadi konsep berjalannya bio bemo ini bernanung dibawah siasat."




(utw/utw)