Siasat, Jadi Tema Besar Jakarta Biennale 2013

Program Publik Jakarta Biennale - Siasat (3)

Siasat, Jadi Tema Besar Jakarta Biennale 2013

- detikHot
Jumat, 08 Nov 2013 11:01 WIB
Siasat, Jadi Tema Besar Jakarta Biennale 2013
Dok. Tim Dokumentasi Jakarta Biennale 2013
Jakarta - "Cause where I live, the game to play is compromise solution." Sepetik lirik dari lagu Street Fighting Man dari grup musik The Rolling Stones itu, cukup menarik bila ditarik ke konteks kota Jakarta.

Ya, lihat saja, pemerintah membisu bersama catatan rencana yang entah apa dan kapan terealisasi. Tembok rumah dan gerbong kereta jadi medianya para pengiklan. Sekolah mahal, mall bertebaran. Gaji kecil, mobil murah.

Lalu apa yang dilakukan warga untuk bertahan hidup dalam keterbatasan gerak? Banyak! Sepeda motor bisa disulap jadi bermuatan seperti mobil bak, mobil bisa menjadi odong-odong yang dicintai anak kecil maupun rumah tambal-sulam jadi sepetak kontrakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nyatanya kesulitan bisa diakal-akali, agar bisa bertahan dan mampu bersaing. Inilah yang disebut dengan 'Siasat'. Jakarta dan sejuta 'Siasat' di dalamnya, adalah pokok dari tema yang diangkat dalam penyelenggaraan Jakarta Biennale tahun ini.

Bagi Direktur Eksekutif Jakarta Biennale 2013, Ade Darmawan, bangsa ini penuh akal-akalan dalam kesehariannya. "Cuma praktek-praktek itu enggak pernah cukup waktu, energi atau pikiran untuk dicanggihkan. Untuk menjadi sebuah formulasi yang solid lalu dia bisa menjadi produksi pengetahuan, enggak cuma jadi sekedar praktek iseng," ujarnya kepada detikHOT.

Ia coba mengangkat bagaimana praktek yang sudah dijalankan sebelumnya oleh warga, diformulasikan jadi lebih solid kemudian jadi produk pengetahuan agar siap disebarkan. "Pada saaat yang bersamaan ini bisa menjadi tantangan untuk semua, termasuk wilayah global."



Menurut pria berusia 39 tahun ini, penyelenggaraan sebuah Biennale akan selalu memiliki vibrasi ke ranah global. "Siasat ini kontribusi keluarnya adalah soal hasil yang muncul dari negara-negara yang modernitasnya tanggung. Karena banyak banget kejadian seperti ini, terutama di negara seperti di Afrika, Asia Tenggara, Amerika Latin dan lainnya. Negara-negara yang dipaksakan menjadi modern oleh barat," ujarnya.

Isu yang diangkat tahun ini, juga disambut baik oleh para seniman dari luar negeri. Karena menurut Ade, bayak diantara mereka juga merasakan hal yang sama. "Bahwa ada hal yang selama ini seperti menyempal dari sistem, tapi kita enggak pernah melihat ini dengan baik."

Dengan pendekatan seni rupa, sesuai dengan inti dari Biennale, Ade bersama tim dan seniman yang menjadi partisipan disini coba mengkaitkan fenomena ini menjadi dasar karya seni. Sekaligus untuk menggandeng disiplin ilmu lain, untuk membahas wacana seni dan sosial itu.

"Biennale enggak boleh hanya sekedar bicara seni rupa, dia harus bisa masuk ke diskursus yang lain seperti politik atau ekonomi," ujarnya. Maka makna kota, warga, dan cara bertahan hidup menjadi oksigen dari program publik yang ada di Jakarta Biennale kali ini.

Tim Jakarta Biennale ini pun coba menerabas bentuk-bentuk ekslusif dunia seni rupa yang biasanya hanya menjadi konsumsi para seniman. Maka ia masuk ke ranah publik, berhadapan langsung dengan masyarakat.

"Biennale itu sebenarnya soal memindahkan karya. Kalau kita buat pameran yang benar-benar hanya nunjukin karya seni. Apa bedanya dengan pameran yang ada di galeri?"

Maka proyek berbasis komunitas, riset, intervensi ruang publik dan kemampuan mencapai lintas disipliner mulai dikembangkan. Namun, bukannya galeri ditinggalkan, beberapa pameran dari Jakarta Biennale 2013 pun tetap diadakan di dalam ruangan.

Dalam pandangan Ade, menghapus ekslusifitas seni, menjadi salah satu tugas dari penyelenggara Jakarta Biennale, karena acara ini memang didedikasikan untuk publik. Ini pun juga menjadi tugas dari pemerintah.

"Pemerintah kan milik publik, harusnya dia enggak membawa seni ke yang elite. Beda dengan galeri, karena galeri itu milik privat. Pemerintah harus mengembalikan seni ke publik, karena dananya juga dari masyarakat."


(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads