Jakarta Biennale 2013 Antara Seni, Warga Dan Kota

Program Publik Jakarta Biennale - Siasat (1)

Jakarta Biennale 2013 Antara Seni, Warga Dan Kota

- detikHot
Jumat, 08 Nov 2013 09:16 WIB
Jakarta Biennale 2013 Antara Seni, Warga Dan Kota
Dok. Astrid Septriana (detikHOT)
Jakarta -
Dalam hitungan jam, perhelatan seni Jakarta Biennale 2013 akan resmi dibuka. Tapi bukan berarti dimulai, pasalnya sepanjang Oktober 2013, beberapa program dari Jakarta Biennale 2013 sudah mulai bergerak di ruang terbuka kota Jakarta.

Seperti sudah tercipta beberapa mural yang merupakan hasil interpretasi dari makna Siasat. Antara lain mural dari Eko Nugroho, The Popo, Bujangan Urban, Pak Nur dan lainnya.

Belum lagi penyebaran hasil proyek seni rupa seniman dengan komunitas yang kini ada di ruang publik Jakarta, seperti karya Enrico Halim dan timnya yang menggerakan Bio Bemo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juga Abdurahman Saleh bersama Mr.Gro dan tim yang melukis gerobak-gerobak pemulung. Masih ada program yang didedikasikan bagi warga secara luas dari AKumassa, Jatiwangi Art Factory & TROTOARt, Mella Jaarsma & Nindityo Adipurnomo.

Berikut adalah laporan detikHOt yang membahas semua program publik dari Jakarta Biennale 2013 yang telah berjalan dan tersebar di ruang kota sepanjang bulan Oktober 2013.

***


Jakarta Biennale adalah sebuah perhelatan seni rupa kontemporer yang berskala internasional dan diselenggarakan secara rutin setiap dua tahun sekali. Tahun ini, tim panitia Jakarta Biennale yang dipimpin oleh Ade Darmawan selaku Direktur Eksekutif, Hafiz Rancajale sebagai Direktur Artistik dan Nadia sebagai Direktur Manajemen, menawarkan banyak program baru.

Pertama, pemahaman akan Biennale itu sendiri. Biennale melihat dan memaknai kembali kota sebagai wilayah yang dinamis dan terus bergerak melalui praktik seni rupa kontemporer.

Biennale juga berperan untuk melihat kecenderungan ekspresi kontemporer serta pencapaian artistik yang terkait dengan perkembangan isu, sosial, politik dan budaya terkini.

Karena alasan ini, Jakarta Biennale tahun ini mengangkat tema 'Siasat'. "Ini soal posisi warga. Kalau kita lihat, dia itu sebuah entitas yang diobjekin pemerintah, diobjekin perusahaan juga," ujarnya.



Tapi pada saat yang bersamaan si warga ini jadi punya siasatnya sendiri, untuk bernegosiasi. Ada yang bersiasat soal ruang, ada yang soal ekonomi, ada yang soal artistik desain dan hal keseharian," kata Ade Darmawan kepada detikHOT Senin (28/10/2013) lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

"Yang membuatnya menarik adalah sebenarnya apa yang dilihat warga, enggak pernah diberi tantangan yang baik atau dicanggihkan sebagai sebuah pengetahuan, jadi praktik terus."

Lalu karena Biennale itu berada di wilayah seni rupa, pendekatan yang dilakukan dari sisi itu. "Jadi kita mencoba melihat siasat-siasat dari warga, seniman dan hubungannya dengan ruang juga pola-pola yang akhirnya terproduksi dari situ," ujar Ade.

***

Ade Darmawan menjelaskan ada beberapa misi dari event Jakarta Biennale tahun ini. Ia mengharapkan agar misi tersebut menjadi tradisi. Di antaranya misi utamanya adalah dapat menjadi interaksi dan kedekatan dengan warga kota.

Serta metode pemajangan karya yang berada di dalam dan di luar ruangan. "Karena intervensi di ruang publik itu jadi sangat penting di kota seperti Jakarta, untuk perluasan pengaman artistik di ruang publik."

Tahun ini, wilayah yang dicakup oleh partisipan Jakarta Biennale merata di lima wilayah titik ibukota. "Karena selama ini kegiatan-kegiatan seni rupa biasanya ada di Jakarta Pusat dan Selatan. Jadi, kita memang harus membuat unit-unit dalam bentuk gerilya dan sporadis untuk menjangkau publik sebanyak-banyaknya," ujar Ade.




(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads