Gerobak Ibu Brani Berasal Dari Abad Ke-17, Didorong Terasa Ringan

'IBU', Pementasan Teater Koma Ke-131 (7)

Gerobak Ibu Brani Berasal Dari Abad Ke-17, Didorong Terasa Ringan

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 30 Okt 2013 15:46 WIB
Gerobak Ibu Brani Berasal Dari Abad Ke-17, Didorong Terasa Ringan
Saat pembuatan gerobak Ibu Brani (dok. Teater Koma)
Jakarta - Ibu Brani mendorong gerobaknya, dari tepi panggung menuju ke tengah. Hanya dengan satu tali ia berhasil menariknya. Sampainya di tengah, ia berhenti.

Gerobak bertenda putih dengan berbagai macam barang abad ke 17 berada di dalamnya ditaruhnya. Wajah Ibu Brani lelah menarik, meski tampak berat tapi gerobak tersebut ringan ditarik.

"Itu jadi properti utama yang pertama dibuat. Gerobak itu simbol hidupnya Ibu Brani dan wajib ada," kata sang sutradara Nano Riantiarno kepada detikHOT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teater Koma menafsirkan gerobak di abad ke 17 dan bergaya Jerman adalah yang mereka buat tersendiri. Properti di atas panggung dibuat berdasarkan skenografi Onny Koes.



Menurut Onny, gerobak atau wagon yang dirancang sudah lebih dulu dibuat studinya. "Hasil riset kami, bocorannya yah seperti itu. Saya pribadi tetap memasukkan rasa Indonesianya," katanya ketika dihubungi detikHOT.

Gerobak merupakan salah satu artistik wajib di lakon 'IBU'. Selain itu, ia juga membuat jembatan dan kastil berukuran besar sebagai latar belakang panggung.

Unsur Indonesia juga dimasukkannya dengan menggantungkan hasil panen bumi Indonesia. Seperti jagung, ubi-ubian, tebu, dan kelapa. "Itu kan kultur orang Indonesia ketika bangun rumah. Kami adakan," ujar Onny.

Onny yang sebelumnya juga belajar teater dengan Teguh Karya di Teater Populer mengatakan sudah menyiapkan segala macam properti ini sejak dua bulan lalu. Tapi untuk studinya berlangsung lama sebelum itu.

Menurutnya, meski ini merupakan saduran dari karya Jerman, tapi tetap saja properti panggung, dan atmosfirnya harus terasa Indonesia.





(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads