Usia boleh kepala tiga, namun napas panjang keberadaan Teater Koma tak boleh berhenti. Didirikan 1 Maret 1977 silam, Teater Koma aktif dan konsisten melakukan pementasan setiap tahunnya.
Tahun ini mereka mereka akan mementaskan produksi yang ke-131. Khusus tahun ini, Maret lalu ada lakon 'Sampek Engtay'.
Sedangkan beberapa hari lagi, lakon IBU hasil karya dramatulugi asal Jerman, Bertolt Brecht akan dipentaskan setiap hari pada tanggal 1-17 November.
Dalam setiap lakonnya, Teater Koma selalu membuat pentas yang detil dari segala sisi, seperti kostum, musik, naskah skenario hingga properti panggung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***
Jadwal latihan masih dua jam lagi, namun para anggota sudah tiba di Aula Universitas Tarumanegara, Cilandak. Ruangan besar yang dipenuhi berbagai barang properti dan blocking panggung itu, sudah dipenuhi mereka.

Di antaranya ada yang sedang mengecek barang, menghapal naskah, dan istirahat. Tak lama kemudian salah satu pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno dan istrinya Ratna Riantiarno datang. Mereka memang selalu tepat waktu.
Dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek, pria yang akrab disapa Nano tersebut meladeni pertanyaan detikHOT. Ia mulai menceritakan awal berdirinya Koma hingga mencapai usia sekarang ini.
"Kami berdiri sejak 1977, pentaskan Rumah Kertas. Tahun 1981 baru pentas lagi. Setelah itu, kami mulai lebih dikenal karena sering ada di televisi," kata Nano.
Pada 1982, Teater Koma mulai melakukan pertunjukkan konsisten tiap satu tahun sekali. Kala itu, harga sebuah lakon, bisa seharga dua buah skenario film.
"Iya, sebuah produksi sama saja dengan dua skenario film yang saya buat. Duit saya untuk itu, dan memang mahal harga produksi teater," ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan istrinya, Ratna Riantiarno. Saat ikut mendirikan Teater Koma, mereka pernah hanya sanggup pentas sekali selama lima tahun.
"Tapi saya rasa kita enggak bisa begini terus. Kita harus cari sponsor, harus ada pendukung, dan promosikan Teater Koma," kata Ratna kepada detikHOT.
Pada era tersebut, memang tak banyak orang yang sering menonton teater. Pementasan teater belum lumrah ditonton remaja dan masyarakat pada umumnya. Biasanya hanya ditonton oleh para pencinta seni, orang yang nongkrong di Taman Ismail Marzuki maupun pecinta Teater Koma.
"Saya katakan kita harus menjual tiket door to door. Ibarat pintu rumah, kita ketok masing-masing, termasuk saya ajak teman-teman kantor tempat saya bekerja di Astra dulu," ujar Ratna.
Lama-lama, teater ini dikenal masyarakat. Tiap kali pementasan, tiket selalu ludes dijual. Para pecintanya pun setia menunggu karya selanjutnya dari Nano.
Sejak pentas pertamanya 'Rumah Kertas', Teater Koma selalu membuat lakon yang mengkritik kondisi sosial, lingkungan sekitar, dan pemerintah.
Pria yang mengalami stroke tahun lalu ini mengatakan di usia senjanya, ia tak pernah lelah menulis naskah membangun.
"Alhamdulillah selama diberi kesehatan akan terus ngomong soal rakyat," ujar Nano yang kini berusia 64 tahun. "Memang seharusnya sudah selesai, tapi saya merasa harus tetap bikin kayak naskah dan enggak kenal lelah."

(utw/utw)











































