Napas Panjang Sastrawan 'Empu'

Malam Para Empu (1)

Napas Panjang Sastrawan 'Empu'

- detikHot
Senin, 28 Okt 2013 14:10 WIB
Napas Panjang Sastrawan Empu
Jakarta - Dipapah beberapa orang termasuk salah satunya anaknya sendiri, Putu Wijaya berjalan ke tengah panggung. Ia belum pulih benar dari stroke yang beberapa waktu lalu menyerangnya. Namun, hal itu tak menghalanginya untuk memenuhi undangan tampil di hari terakhir perhelatan Bienal Sastra Salihara - Sirkus Sastra di Komunitas Salihara, Jakarta, Minggu (27/10/2013) malam.

Putu tampil di sesi kedua 'Malam Para Empu' yang juga menghadirkan Leon Agusta, Arswendo Atmowiloto dan Sori Siregar. Pada malam sebelumnya, sesi pertama, telah tampil Abdul Hadi WM, Danarto, Nano Riantiarno dan Marion Bloem dari Belanda.

Malam itu, dengan suara yang serak-serak, dan pandangan mata yang masih kabur, Putu Wijaya tetap bergelora seperti biasanya ketika tengah membacakan karyanya. Ia membacakan cerpennya yang sudah berumur 30 tahun, berjudul 'Sepi'. Sebelum beraksi, ia bercerita mengenai riwayat karya itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cerpen ini diterjemahkan oleh Michael Bodden, lucunya, tokoh utama yang bernama Merdeka juga diterjemahkan menjadi Mr Liberty. Saya pikir-pikir ada benarnya juga nama tokoh ikut diterjemahkan. Maka akhirnya cerpen ini saya ubah judulnya menjadi Merdeka," kisah pria yang tak pernah meninggalkan ciri khas topinya itu.

Seperti biasa pula, Putu menghapal cerpen yang dibacanya di luar kepala. Namun, karena kondisi kesehatannya, ia didampingi anaknya, Taksu Wijaya, yang sesekali mengingatkan baris yang terlupa. Taksu juga ikut membacakan beberapa dialog di bagian akhirnya. Alhasil, penampilan Putu malam itu menjadi kolaborasi ayah dan anak yang kompak dan mengharukan.

Tak kalah 'heroik' dibanding Putu, Leon Agusta juga tampil meskipun langkahnya sudah tertatih-tatih oleh usia tua. Penyair kelahiran 1938 itu membacakan beberapa puisinya, antara lain 'Dari Pisau Mana'. Suara Leon yang lirih membuat suasana menjadi khidmat dan mendadak sangat hening. Lebih-lebih ketika ia mulai melantunkan larik-larik syairnya:

Kita pepohonan berpelukan, berpenyakit penuh kotoran/ Sesekali aku sempat bermimpi jadi orang suci / Ya, Tuhan. Apakah Kau juga kesepian? / Manakah lebih indah, cinta atau puisi? / Memudar dalam khayalan atau bisa abadi / Mungkinkah terjadi kealpaan ikhwal? / Tak pernah bisa mengelak perangkap / Antara alur kisah dan tipu daya / Mungkinkah ada isyarat? Tapi luka tiba / Sebelum terbaca dari pisau mana datangnya tikam

Tampil dengan lebih "bugar" dan banyak bercanda, Arswendo Atmowiloto membuka perhelatan itu dengan celetukan-cetelukan khas gaya Jawanya yang penuh "pasemon". Pengarang produktif kelahiran Solo, 1948 itu mengaku masih terus berkarya hingga kini. Bahkan, saat ini ia tengah menyelesaikan novelnya yang berjudul 'Rabu Rasa Sabtu".

Sebenarnya oleh panitia acara dia diminta membaca petikan dari novelnya tahun 1970-an yang berjudul 'Circus'. Namun, malam itu Arswendo lebih memilih "mempromosikan" novel yang tengah digarapnya itu. Namun, ia lebih banyak bicara "ngalor-ngidul" ketimbang membacakan karyanya secara tertib. Tapi jangan salah. Justru dengan itu, Arswendo menghidupkan acara malam itu menjadi "gayeng".

Lalu, Sori Siregar menutup acara. Berkolaborasi dengan keyboardis The Upstair yang memberi sentuhan musik, Sori membacakan petikan dari novelnya 'Telepon'. Mengenai novel tersebut, Sori punya cerita unik.

"Sebenarnya saya ini cerpenis, nulis novel karena ditantang teman saja, tapi justru novel saya yang dapat penghargaan, cerpen saya tidak pernah," tuturnya. Sori tentu hanya merendah. Belum lama ini, ia mendapat penghargaan dari Harian Kompas untuk kesetiaannya berkarya.

"Kunci menjadi penulis itu satu, jangan bernapas pendek. Banyak penulis kita yang mati muda, dalam arti, menulis sepuluh tahun, lalu berhenti pada tahun kesebelas. Penulis harus punya napas panjang, agar bisa dijuluki empu seperti malam ini," ujarnya diakhirnya dengan seloroh.

Dan, malam itu, empat sastrawan kelas "empu" telah menunjukkan napas panjang mereka. Di luar panggung, mereka masih aktif berkarya. Kebetulan pada hari yang sama, cerpen Arswendo dimuat di Kompas. Sori Siregar juga masih rajin menulis cerpen di berbagai koran, demikian pula Putu Wijaya.

Adapun Leon Agusta, sampai tahun lalu masih menerbitkan buku kumpulan puisi 'Gendang Pengembara', dan mementaskan teater puisi dari buku tersebut di Graha Bhakti Budaya, TIM. Saat ini, ia tengah menyiapkan pementasan teater puisi lagi, bertajuk 'Musyawarah Ular' yang direncanakan Mei tahun depan.


(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads