PLOt Pentaskan 'Perempuan di Pinggir Danau' Hingga Ke Jerman

Menghidupkan Lagi Opera Batak (4)

PLOt Pentaskan 'Perempuan di Pinggir Danau' Hingga Ke Jerman

- detikHot
Senin, 28 Okt 2013 11:57 WIB
PLOt Pentaskan Perempuan di Pinggir Danau Hingga Ke Jerman
Jakarta - Jika ditanya kenapa Lena Simanjuntak lebih memilih media opera untuk karyanya 'Perempuan di Pinggir Danau'?

Dengan bersemangat perempuan berputri dua dan lima orang cucu ini mengatakan karena ingin karyanya bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Sehingga pesannyapun sampai ke tujuan.

"Kalau misalnya bermedia film tentu akan butuh tiang-tiang besar untuk memutarnya," kata Lena. "Sementara dalam bentuk opera yang tradisional ini kita bisa bawa ke masyarakat pelosok hingga ke masyarakat kelas atas."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak heran jika kemudian Lena dan PLOt tak hanya mementaskan lakon ini di tanah Batak. Mereka melakukan roadshow sepanjang tahun 2013 ini, mulai dari Sumatera Utara (Medan, Siantar, Balige), Bandung, Solo, Yogyakarta, Jakarta pada Jumat-Sabtu (25-26/10/2013) lalu di Universitas Kristen Indonesia.



Bahkan lewat organisasi Persabatan Indonesia-Jerman yang berkedudukan di Koeln, Jerman, PLOt juga akan mementaskan kisah ini di negeri tersebut pada tanggal 2-12 November mendatang. Bisa disebut pembiayaan roadshow inipun dilakukan secara mandiri oleh PLOt.

"Kami ingin mengingatkan kembali bahwa antara Indonesia -Jerman sebenarnya sudah terjalin persahabatan berdasarkan misionaris selama 150 tahun. Jadi jangan kita lupakan sejarah," kata Lena.

Lena yakin lewat pertunjukan budaya ini persahabatan tanpa embel-embel negara maju dan berkembang akan terjalin lebih erat.

"Karena dalam budaya, semua orang punya martabat yang sama. Dalam budaya Batak disebut, sesama Raja akan saling menghormati," kata Lena.

***

Tekad memang bisa mengalahkan kendala. Lena mengatakan meski Opera Batak di pentaskan dalam bahasa campuran Indonesia dan Batak, dia tak khawatir akan rencana mementaskan lakon ini di Jerman.

"Akan ada pelatih bahasa buat teman-teman, karena di Jerman opera ini akan dibawakan dalam bahasa Indonesia dan Jerman," kata Lena.

Selain itu Lena yakin ketika para seniman membawakan cerita ini dengan rasa, bahasa tak akan lagi jadi kendala. Rasa itulah yang universal.




"Saya yakin teman-teman seniman sudah membawakannya dengan rasa yang bagus. Berteater pada dasarnya memang soal mengolah rasa. Sehingga tadi bahkan orang Indonesia yang tak bisa bahasa Batakpun mengerti ceritanya, tho?" kata Lena pada detikHOT usai pementasan di Universitas Kristen Indonesia.

***

Opera Batak sebagai sebuah seni transisi tradisional-modern menurut Thompson juga akan mudah diterima masyarakat dunia.

"Tapi tidak murni dalam pengertian opera Barat atau drama yang dinyanyikan. Karena Opera Batak juga bisa mengandung tarian dan musik, kadang ada juga pencak silat. Pertunjukan variatif," kata Thompson.

Kedepannya Thompson berharap ada lebih banyak naskah pertunjukan untuk Opera Batak. Misalnya lakon-lakon yang mengangkat heroisme, mitologi, mengangkat perjuangan yang selama ini hanya diceritakan satu arah. Dengan Opera Batak diharapka, panggung jadi lebih antusias menonton Opera Batak ini.

(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads