Sulitnya Membangkitkan Opera Batak Yang Sempat Tergerus Zaman

Menghidupkan Lagi Opera Batak (3)

Sulitnya Membangkitkan Opera Batak Yang Sempat Tergerus Zaman

- detikHot
Senin, 28 Okt 2013 10:48 WIB
Sulitnya Membangkitkan Opera Batak Yang Sempat Tergerus Zaman
Jakarta - Soal upaya menghidupkan kembali Opera Batak, selain sosok Lena Simanjuntak-Mertes sang penulis naskah dan sutradara, ada Thompson Hs yang tak kalah penting perannya.

Bisa dikatakan pria berusia 45 tahun yang jadi Direktur Artistik PLOt inilah yang mengompori beberapa anak muda untuk bergabung dan menengok kembali budaya Batak yang hampir punah itu.

"Dulu sempat dikatakan sama orang-orang tua yang dulu sempat main Opera Batak, 'ngapain kau hidupkan kembali seni yang sudah mellep-mellep (istilah Batak tentang sesuatu yang hampir punah) meski bukan kau pula yang membunuhnya," kata Thompson sembari tertawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Nah, tentang sejarah perkembangan Opera Batak, pria yang bergelar Ompu Datu Pamingotan Tuan Patiaraja Namangunghal Opera Batak ini, paling cocok untuk menjelaskannya.

***

"Cikal bakal Opera Batak itu sudah ada sejak tahun 1920-an lah. Ada Tilhang Parsahapi yang suka bawa kecapi kemana-mana bersama teman-temannya membuat pertunjukkan sembari menyambangi rumah penduduk," kata Thompson pada detikHOT, Jumat (25/10/2013).

Kelompok Tilhang ini semakin berkembang sampai mereka pindah ke Siantar. Mereka banyak mendapat sponsor dari para nasionalis.

"Maka bisa dikatakan Opera Batak adalah juga pejuang tapi yang menggunakan seni budaya," kata Lena Simanjuntak usai workshop pementasan.

Namun Tilhang tidak sendirian, ada beberapa kelompok Opera Batak lain yang juga berkembang masa itu, misalnya kelompok Samosir, Butar-butar, dan marga lain hingga ada 30-an kelompok.




Umumnya perintis grup ini adalah sempalan grup atau bagian yang pernah bergabung dengan Sirindo (Seni Ragam Indonesia), yakni grup tilhang yang terakhir.

"Namanyapun tak selalu Opera Batak, karena berdasarkan penelitian kita dulu di Balige juga ada Opera Luther," kata Thompson.

Thompson juga tak setuju jika disebut Opera Batak sebagai produk budaya murni Indonesia. Karena kata Opera sendiri sudah ada di Eropa sebelumnya. "Lebih cocok disebut sebagai budaya transisi," ujarnya.

Dari sifatnya saja sudah kelihatan. Dalam Opera Batak, penonton yang tidak terikat dengan ikatan seremonial. Siapa saja bisa menonton. Sementara dalam ritual sifatnya terbatas.

"Misalnya anak2 tidak boleh ikut. Jika produk tradisi murni, misalnya Sigale-gale, ritual dan upacara lain itulah teater tradisi. Sementara Opera Batak tidak muncul dari upacara adat."

***

Tahun 1930-an sampai 1960-an, Opera Batak masih berjaya. Bahkan sempat diundang ke Istana Negara oleh Presiden Soekarno.

Tahun 70-an masih ada, tapi sudah mulai surut. Tahun itu juga masih ada penelitian tentang opera batak, oleh seorang profesor asal Jerman yang meneliti transkrip pertunjukan dan diterjemahkan ke bahasa Jerman.

Tapi karena pertarungan media, masuknya televisi, bioskop, seni pertunjukan ini mulai surut sekiatar tahun 1980-an. Regenerasinya dan manajemennya juga mulai kurang bagus sehingga hilanglah satu per satu. Dan orang-orangnya hanya muncul jika ada pesta.




Tak hanya menyisakan ancaman pembubaran, banyak Opera Batak yang makin surut karena ancaman eksternal.

Tapi ada juga yang trauma karena waktu itu terjadi persoalan sosial. Jadi ada yang pernah membunuh orang gara-gara tiket masuk tidak dikasih.

"Atau kalau hujan datang mereka tidak jadi pertunjukan akhirnya tidak ada ynag mau dimakan, terpaksa mencuri, kecuali masih ada yang bisa dimintai tolong," kata Thompson.

Akibatnya banyak par-opera atau orang opera yang tak dianggap miring. Orang jadi enggan ikut main opera.

"Kesan itu juga sempat dialami waktu kita mau ngajak anak-anak muda main opera. Tapi sedikit demi sedikit kita terangkan dan kita balik bagaimana agar nasib budaya Batak tak seperti zaman dulu lagi," ujar Thomson.

***

Thompson dan teman-temannya mulai merevitalisasi opera batak itu dimulai tahun 2002, diawali di Taput, Tarutung, bersama Asosiasi Tradisi Lisan Dan Nada yang merupakan percontohan grup opera, bernama Silindung.
PLOt itu pengembangan dari percontohan itu yang awalnya mengambil naskah-naskah lama.

"Baru tahun 2005 PLOt mengembangkan program ini di Siantar , tidak di tarutung. Kita lebih progress dengan menggabungkan pemain lama dengan generasi baru yang berminat terlibat."

Hingga kini di PLOt tidak ada keanggotaan karena sifatnya simpatisan. Namun hingga kini tercatat 80-90 simpatisan yang keluar masuk. "Jadi kami ini tidak bersifat organisasi tapi organisme," kata Thompson.

(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads