Tarian Tatag De Penyawo Menceritakan Tradisi Adat Dayak-Muslim

Art Summit Indonesia 2013 (5)

Tarian Tatag De Penyawo Menceritakan Tradisi Adat Dayak-Muslim

Tia Agnes Astuti - detikHot
Jumat, 25 Okt 2013 13:16 WIB
Tarian Tatag De Penyawo Menceritakan Tradisi Adat Dayak-Muslim
Tarian tentang suku Dayak-Muslim karya Usman Najrid Maulana (Tia Agnes/detikHOT)
Jakarta - Suku Dayak, muslim, dan tarian. Apa yang akan Anda bayangkan jika mendengar ketiga kata di atas? Apakah sebuah tarian yang menceritakan kultur suku Dayak-Muslim?

Ya, dari ide cerita tersebut yang membuat Usman Najrid Maulana membuat tarian kontemporer yang berasal dari kampung halamannya sendiri.

"Ini kontemplasi atau perenungan aku, tentang bagaimana aku yang Dayak dibenturkan dengan agamaku Islam," katanya kepada detikHOT di Taman Ismail Marzuki pertengahan bulan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria yang akrab disapa Usman mengatakan pergolakan ini yang dicoba diberikannya dalam tarian selama 20 menit. Ia menamainya 'Tatag De Penyawo.' Bahasa ini berasal dari bahasa suku Tidung.

Kata 'tatag' berarti kehilangan. Dalam tarian ini, Usman, mengartikannya sebagai rasa hilang terhadap tradisi suku Dayak.

Sedangkan kata 'De Penyawo' artinya rasa terdalam dari hati yang paling dalam. "Kegelisahan ini adalah kegelisahanku, dan mungkin juga bagi suku Dayak-Muslim lainnya."

Ia yang masih aktif dalam beberapa kultur suku Dayak, bahkan anggota sukunya masih mempertanyakan identitasnya. Sedangkan Usman ingin terus menjaga budayanya, namun tetap saja ada beberapa hal yang bertentangan dengan agama.

Seperti suku Dayak yang tak memiliki kepercayaan. Serta penggunaan hewan babi sebagai peliharaan dan konsumsi makanan sehari-hari.

Menurutnya, seharusnya antara tradisi dan agama dipisahkan. "Makanya dalam tarian aku masukan ayat Surah Al Hujarat yang ada di Al Qur'an. Bahwa aku ciptakan kamu laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal," ujarnya.

Lulusan Seni Tari ISI Yogyakarta ini juga mengatakan membuat kreasi tarian ini tak membutuhkan waktu lama. Usman yang baru kali pertamanya pentas di Art Summit Indonesia ke-7 ingin menunjukkan wajah asli dari suku Dayak yang beragama Islam.

Usman juga turut menjadi penari atau tokoh sentral dalam cerita. Tarian ini diawali dengan sekelompok pria masuk ke tengah panggung dengan menampakkan diri laiknya tanpa busana.

Kemudian, mereka mulai memakai cawat dan menunjukkannya ke hadapan penonton yang ada di TIM. Usman yang memakai cawat berwarna hijau dan melambangkan kesuburan memasuki panggung.

Ia menari sambil memakai topeng hudoq kublo. Topeng tersebut berwarna warni dan tarian menjadi mistis. Di akhir tarian, ia dikelilingi oleh penari yang memakai tutup kepala tersebut.

"Aku mengembalikannya kepada kesimpulan kepercayaan Kaharingan. Di Kalimantan Tengah banyak warga yang pada akhirnya memakai Kaharingan yaitu kepercaayan adat sampai sekarang." ujar Usman.

Hingga kini, Usman sudah melahirkan beberapa karya di antaranya tarian Digandang, Bunga Zapin (2008), Nyumbung Kedabang, Iluk Itil Tahung, Eegh..Tahung (2007), Kadandiu (2008), Upun Pasa (2009), Choos-An (2011), Sarung Zi (2012), XY (2013).



(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads