Art Summit 2013, Pesta Seni Budaya Dunia di Indonesia

Art Summit Indonesia 2013 (1)

Art Summit 2013, Pesta Seni Budaya Dunia di Indonesia

- detikHot
Jumat, 25 Okt 2013 09:08 WIB
Art Summit 2013, Pesta Seni Budaya Dunia di Indonesia
Marie Pangestu dan Juju Masunah (Tia Agnes/detikHOT)
Jakarta - Jarang ada kesempatan kita bisa menikmati suguhan pertunjukan seni dan budaya dari berbagai negara yang ditampilkan langsung oleh seniman aslinya. Kecuali saat ada kesempatan mengunjungi langsung negara tersebut tentunya.

Selama beberapa bulan ini Art Summit Indonesia yang ke tujuh kalinya diadakan, Anda bisa menonton pertunjukkan tersebut tanpa dipungut biaya apa pun.

Meski hari ini adalah hari penutupan yang dilaksanakan di ISI Solo, Anda tak perlu kuatir. DetikHOT membuat rangkuman beberapa pementasan apik, unik, dan yang memukau yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


***

Jika Australia punya World of Music, Arts and Dance (WOMADelaide) yang berlangsung selama 20 tahun, maka Indonesia tak kalah.

Sejak 1995, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga mengadakan festival musik dan tari bertaraf internasional bernama Art Summit Indonesia.



"Di tahun ini ada sebanyak 300 seniman yang ikut tampil dari 8-25 Oktober. Ditambah seniman dunia dari Cina, Austria, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat," kata Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kemenparekraf, Juju Masunah kepada detikHOT.

Jika biasanya, pementasan dilaksanakan di satu kota saja, kata Juju, tahun ini berbeda. Perhelatannya ada di empat kota yaitu Bali, Yogyakarta, Solo dan Jakarta.

Serta enam perwakilan dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia. Di antaranya dari ISI Yogyakarta, ISI Padang Panjang, STSI Bandung, ISI Denpasar, ISI Solo, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan kelompok seni lainnya.

Festival yang bertajuk 'Contemporary Art and Making of its Market' ini dimaksudkan dengan menjadi sarana seni pertunjukan kontemporer bagi para seniman muda.

"Mereka bisa mempromosikan karyanya di sini, kepada para penonton dan penggemarnya. Dan bisa menciptakan pasar yang komersil dengan sendirinya. Itulah mengapa kami mengajak seniman muda dari kampus-kampus seni ini," katanya.

***

Perhelatan tiga tahunan ini, akan selalu menghadirkan seniman dunia tingkat internasional. "Itulah ciri khas kami, menyajikan pertunjukan gratis dan dari kelas dunia," kata Juju.

Di tahun ini ada pentas dari Belgia dan Jerman yang dibuat oleh Arco Renz dan berjudul 'solid.states'. Kedua, dari Korea Selatan yang membawakan tarian Bul-ssang dalam khas seni kontemporernya. Serta oleh Gandini Juggling asal Inggris yang membuat pentas sirkus berjudul 'Smashed'.

Di festival Art Summit sebelumnya justru lebih banyak penarinya lagi. Sebut saja tarian kontemporer karya Hyun Ok Park dari Korea Selatan, tarian Leine Roebana (Belanda), tarian Sekar Kliwon, Nanu Munajar (Indonesia), musik Talea Ensemble (Amerika Serikat), musik Pierrot Lunaire (Austria), dan Nan Jombang Dance Company (Indonesia).

Tahun lalu, segala agenda yang menyebar ke kota lainnya ini akan diakhiri di ISI Surakarta. Juju menjelaskan tapi sebelumnya sudah ada workshop tari dari Jerman. Serta workshop musik dari Amerika Serikat pada 22 Oktober lalu.

Dilanjutkan Rehearsal Tari Arco Renz dari Jerman pada 23 Oktober. Nanti malam dengan penutupan ada pertunjukkan tarian Ramayana garapan Nuryanto.








(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads