Sepi Kegiatan, Maka Taman Kota Akan Mati Perlahan

Mendesain Ruang Hijau Kota Yang Ideal (3)

Sepi Kegiatan, Maka Taman Kota Akan Mati Perlahan

Astrid Septriana - detikHot
Kamis, 24 Okt 2013 14:05 WIB
Sepi Kegiatan, Maka Taman Kota Akan Mati Perlahan
Nirwono Joga dan Gubernur Joko Widodo saat pembukaan Festival Taman (Astrid Septriana/detikHOT)
Jakarta - Tahukah Anda bahwa Jakarta sebenarnya punya 1.178 taman kota? 'Masa sih,' Anda mungkin akan berkata demikian.

Padahal, ya, inilah yang diklaim Dinas Pertamanan seperti dikutip Nirwono Joga, pengamat tata kota dan koordinator Green Map Indonesia.

"Saya juga terkejut dengan angka ini, begitu banyaknya taman, kok enggak dikenal warga, ini menjadi pertanyaan besar, kemana taman-taman ini?" jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal undang-undang menyebutkan bahwa ruang kota memerlukan ruang hijau terbuka publik sekitar 20 persen dan ruang hijau terbuka privat 10 persen. Sementara apa yang dimiliki kota Jakarta baru sekitar 9,8 persen.

Besar kemungkinan jumlah taman kota yang ribuan itu 'tenggelam' ketika masyarakat tak lagi punya budaya bertaman dan kebiasaan untuk menjadikan taman sebagai pusat kegiatan bermasyarakat.



Coba bandingkan dengan Surabaya. Nirwono menyebut Surabaya mengklaim hanya punya 25 taman kota. Tapi kultur masyarakaat daan taman kotanya kelihatan lebih hidup dibanding Jakarta.

"Bagaimana masyarakat bisa peduli dengan ruang terbuka hijau publik, kalau mereka sendiri tidak pernah diajak untuk bermain, belajar atau berekreasi di taman. Kalau tidak tumbuh budaya bertaman seperti itu, jangan salahkan kalau taman menjadi hilang," kata Nirwono.

***

Menularkan budaya bertaman dan partisipasi publik inilah yang jadi ide penyelenggaraan Festival Taman akhir pekan lalu.

"Ini harus berkelanjutan, harus bisa jadi penyebar virus diadakannya festival yang lebih kecil di seluruh wilayah DKI Jakarta. Tapi juga harus mandiri secara pembiayaan," kata Nirwono saat ditemui detikHOT di Taman Cattleya, Jakarta Barat.

Nirwono membandingkan, 80 persen kota-kota yang sukses mengembangkan taman kotanya di seluruh dunia, kuncinya ada pada kekuatan partisipasi publik.

Hingga hampir tak bergantung pada anggaran pemerintah.
Ini merupakan modal sosial yang lebih kuat dibanding pembiayaan dari anggaran negara atau daerah.

Sebenarnya taman kota yang ideal, tak perlu syarat muluk-muluk. Nirwono hanya menyebut tiga hal. Pertama mudah diakses transportasi publik, prasarana cukup seperti lampu, bak sampah, bangku taman, parkiran sepeda, dan fasilitas untuk difabel.



"Terakhir masyarakat juga diberi alternatif untuk beraktifitas di taman tersebut," kata Nirwono sembari menyebut semakin padat jumlah penduduk suatu kota, maka taman kota sebagai resapan air dan paru-paru kota juga semakin dibutuhkan.

Festival Taman yang baru pertama kali diadakan ini oleh komunitas Green Map Indonesia ini, direncanakan untuk menjadi program rutin tahunan di Jakarta di taman yang justru kurang dikenal masyarakat.

"Pesan yang ingin disampaikan, selain memperkenalkan taman kota, tapi juga menghidupkan potensi dari taman-taman kota," kata Nirwono.

Daripada taman-taman tadi terbelangkalai, atau sampai beralih fungsi, tak ada salahnya mulai membuat acara di taman.

Acara Festival Taman pekan lalu didukung oleh 30 komunitas dan dibuka oleh Gubenur DKI Jakarta, Joko Widodo.







(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads