Yohanes Wibowo, 35 tahun, bercerita tak pernah bercita-cita menjadi seorang dubber. Jalan hidupnya mengalir begitu saja. Tahun 2000 masuk Sanggar Idola, lalu pada 2002 mulai menjadi pengisi suara telenovela.
"Saya mengalir saja ya. Waktu itu saya cuma suka dengerin sandiwara radio. Kemana-mana bawa radio, ya suka," kata pria yang akrab disapa Anes di Lubang Buaya, Jakarta Timur, pekan lalu. "Dari situ mulai tertarik ingin belajar segala hal mulai dari teater, voice over, jadi pengisi suara."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sempat down juga, mungkin jalan saya bukan jadi dubber. Eh, tapi memang jalan Tuhan luar biasa. Tiba-tiba pas pertunjukan teater, ada seorang bapak yang menonton dan bilang bahwa suara saya bagus, saya cocok jadi dubber," kata Anes.
Oleh pria itu Anes lalu dikenalkan pada seorang temannya yang ternyata pemilik perusahaan dubbing. Lucunya si pemilik perusahaan ini tak lain adalah orang yang juga pernah menolak Anes. Anes diterima dan hingga kini dia bisa meneruskan karirnya.
***
Anes mengatakan keberhasilannya sebagai dubber sangat berhutang pada berbagai pelajaran yaang didapatnya di dunia teater.
Mulai dari latihan penghayatan, karakter, pernafasan dan teknik suara. Semua latihan teater itu sangat terpakai ketika Anes menjadi seorang dubber. Dia merasa sangat beruntung pernah mengecap ilmu teater itu.
"Dasarnya dubbing itu enggak jauh beda dengan teater. Mempelajari dunia dubbing itu juga sama luar biasanya," katanya.
Cerita senada diungkapkan dubber Patrick Star dalam serial kartun Spongebob Squarepants, Jumali Jindra. Pria berusia 48 tahun ini memulai karir sebagai pengisi suara pada 1993. Awalnya, dari seni teater.
Sejak SMA, dia sudah ikut dalam kelompok teater. Begitu juga saat menempuh pendidikan sarjana. Jiwa seni tak bisa dilepaskan dari dirinya.
"Waktu SMA ikut teater, lalu saya juga tertarik dengan sandiwara radio. Lama-lama masuk dunia dubbing dan saya suka. Tidak ada batasan visual dalam dubbing," ujar Jumali.
(utw/utw)











































