"Selalu ada ruangan, di sana ada cermin, saya dan topeng. Saya khususkan waktu untuk berdoa kepada Dewa," katanya kepada detikHOT.
Doa ini dilakukannya sebagai bentuk penghormatan kepada jiwa yang ada di topeng tersebut. Sekaligus harapan agar dilancarkan pentas yang akan dilakoninya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Matsui pun menganggapnya bukan seperti ritual khusus seperti tarian Okina. Namun, tujuannya lebih untuk menenangkan hatinya.
"Saya selalu melakukannya selama 10 menit. Jiwa yang ada di topeng harus dihormati," kata pengajar Noh yang sudah melakukan pementasan di sejumlah negara ini.
Karir dan pengalaman Matsui dalam menari Noh sudah tak diragukan lagi. Selama 25 tahun lamanya, ia selalu menghapal gerakan dasar dari tarian yang akan dipentaskan.
Ia mengibaratkannya seperti sebuah biji. Ketika mengupas biji harus dilakukan perlahan, itu juga dapat diartikan dengan kemampuan dari seorang penari Noh.
Untuk mempertahankan kemampuan penari dan gerakan cerita dari lakon, maka harus dikeluarkan secara pelan dan bukan dalam hentakan gerak yang cepat.
Matsui Akira dan putranya Matsui Shunsuke sebagai penyanyi di pementasan mengatakan setiap pemain yang ada di panggung Noh harus menghapal jalan ceritanya, termasuk bagi pemusik.

(utw/utw)











































