Acara pembacaan karya sastra bisa menjadi pertunjukan menarik dan tak terduga ketika dipadukan dengan aksi panggung yang tak biasa, seperti membaca naskah kuno dengan cara ditembangkan. Tradisi dari Jawa masa lampau itu dihidupkan kembali oleh kakak-beradik seniman asal Solo Sruti Respati dan Endah Laras. Tampil di acara Sirkus Sastra - Bienal Sastra Salihara 2003, Rabu (16/10/2013) malam, mereka menembangkan beberapa pupuh dari 'Serat Jaka Tingkir'.
Selain Sruti dan Endah, tampil juga di sesi yang diberi nama 'Kembang dan Binatang' itu novelis Andina Dwifatma, penyair Mugya Syahreza Santosa dan sastrawan dari Amerika Serikat, Brenda A Flanagan. Panggung yang bersahaja menjadi penuh emosi, antara denting nada-nada gender yang lirih, teks yang mendebarkan, dan syair-syair yang mistis sekaligus kocak.
Sruti membuka acara dengan menembangkan kisah runtuhnya Majapahit di bawah pemerintahan Brawijaya, lalu lahirlah kerajaan Islam Demak. Andina Dwifatma membacakan petikan dari karyanya yang memenangkan lomba penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, 'Semusim dan Semusim Lagi'. Novel tersebut memadukan antara fantasi dan kenyataan, dengan menampilkan 'tokoh' ikan mas koki raksasa yang menjadi pemicu terjadinya pembunuhan oleh seorang perempuan yang merasa telah dihamili pria yang sudah punya pacar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, menurut Mugya, puisinya yang berjudul 'Jampi Ayam Adu'-lah yang biasanya banyak dinanti di acara-acara pembacaan puisi. Demikian petikannya:
tajinya setikam belati/ paruhnya setangguh gergaji. mengirap cakrawala/ mengerjap membuka laga. kulit seliat getah/ darah sesubur tanah/ kuku sekukuh batu. kalaulah harus camping mahkotanya/ tumbuhlah pucuk mawar di esok harinya
Brenda A Flanagan, kelahiran Trinidad pada 1949, selain membacakan dua cerita yang ajaib dan menyentuh, banyak bercerita tentang aktivitasnya bergelut di dunia sastra. Ia adalah profesor dan pengajar di bidang penulisan kreatif, analisis sastra, serta Sastra Karibia dan Afro-Amerika di Universitas Michigan - Ann Arbor. Ia juga telah menulis beberapa novel. Dengan atraktif ia menghidupkan acara malam itu.
Acara yang dipandu novelis Ayu Utami itu ditutup dengan kembali pada Serat Jaka Tingkir, kali ini ditembangkan oleh Endah Laras sambil memainkan gitar kecil. Ia menembangkan empat pupuh dengan caranya sendiri, mengkreasikannya dengan nada-nada dari Banyuwangi, Jawa hingga Arab.
Sirkus Sastra -Bienal Sastra Salihara yang digelar di Komunitas Salihara, Jakarta, sejak 20 September masih akan berlangsung hingga 27 Oktober dengan berbagai mata acara. Dari kuliah umum tentang pemikiran seputar sastra hingga pertunjukan tari. (mmu/mmu)











































