Lembaga Independen Jadi Gudangnya Arsip Seni Rupa Indonesia

Embrio, Pameran Arsip Seni Rupa Indonesia (2)

Lembaga Independen Jadi Gudangnya Arsip Seni Rupa Indonesia

Astrid Septriana - detikHot
Rabu, 16 Okt 2013 12:40 WIB
Lembaga Independen Jadi Gudangnya Arsip Seni Rupa Indonesia
Farah Wardani, Direktur IVAA (dokpri)
Jakarta - Tak guna mengeluh, kala kita bisa berbuat sesuatu. Tampaknya itulah yang jadi pedoman lembaga Indonesia Visual Art Archive (IVAA), Yogyakarta.

IVAA adalah salah satu peserta dalam 'Embrio', pameran tentang arsip dan pendokumentasikan karya seni rupa di Indonesia di Galeri Nasional.

Farah Wardani, Direktur IVAA, bercerita banyak pada detikHOT tentang bagaimana lembaga ini memproses arsip dan dokumen seni rupa yang mereka miliki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"IVAA sendiri sebenarnya adalah transformasi dari lembaga sebelumnya yaitu Yayasan Seni Cemeti (YSC) yang sudah berdiri di Jogja tahun 1995," kata Farah, Rabu (15/10/2013).

Yayasan Seni Cemeti sendiri didirikan oleh sekelompok seniman dan tokoh budaya di Yogyakarta. Hingga kini para pendiri tersebut masih menjabat sebagai dewan pengurus di IVAA.

Farah bergabung dengan lembaga ini pada tahun 2006. Sehingga ketika YSC berubah menjadi IVAA pada tahun 2007, Farah termasuk yang terlibat.



***

Menurut Farah, aset terbesar yang dimiliki YSC pada masanya adalah koleksi dokumentasi para senimannya. Koleksi ini dikumpulkan sejak tahun 1995.

"Kami merasa ini akan jadi harta yang sangat berharga di kemudian hari. Apalagi ketika itu pendokumentasian seni masih kurang diperhatikan," kata Farah.

Farah juga melihat ketika IVAA mulai berdiri, pendidikan sejarah seni rupa Indonesia sama timpangnya dengan kondisi infrastrukturnya seperti akademi dan museum.

Tak sekadar mendokumentasikan, kemudian IVAA juga mengembangkan penelitian, kepustakaan dan mengelola ruang belajar bersama untuk dialog lintas disiplin dan eksplorasi artistik.

Hingga kini bisa dibilang, IVAA menjadi lembaga dokumentasi seni rupa pertama di Asia. "Kami juga menjalin jaringan yang luar baik dengan pusat dokumentasi lain di Indonesia maupun di luar negeri," kata Farah.

***

Sejak tahun 2008, IVAA membangun sistem pengarsipan secara digital. Lewat cara ini, kata Farah, ada kemitraan dengan berbagai lembaga seni rupa lain di Indonesia, khususnya untuk arsip seni visual.




"Platform digital ini untuk mendukung aksesibiltas pendidikan seni rupa dan perkembangan sejarahnya agar bisa diakses publik seluas-luasnya," kata Farah.

Hingga kini, koleksi dokumentasi IVAA mencapai 16 juta dokumen dari ranah seni rupa modern Indonesia. Ini mencakup rekaman fotografi dan audio visual mengenai proses kekaryaan seniman, peristiwa seni, dan arsip kegiatan seni seperti: katalog, buku-buku hasil penelitian seni visual, kliping, portofolio seniman, karya video dan lain sebagainya, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kemudian dalam katalogisasi sistem database, materi dikurasi kembali menurut signifikansi historisnya. Maka hingga saat ini, arsip yang diunggah baru mencapai 11 ribu dokumen.

Proses pengumpulan arsip dilakukan IVAA dengan berbagai cara, mulai dari menjalin kerjasama digitalisasi secara resmi dengan lembaga seperti galeri, ruang seni dan lainnya.

"Juga dengan keluarga-keluarga seniman, selain juga mendokumentasikan secara aktif. Ini memang sebuah kerja sehari-hari yang berkelanjutan dan tak pernah habis," ujar Farah.




(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads