Djokopekik boleh dibilang tidak begitu produktif dalam menciptakan karya. Bukan karena malas, tapi idealis. Dia hanya akan melukis jika hatinya ingin.
Pelukis yang khas dengan jenggot putih dan kuciran rambut ini bilang, ia pantang melukis dibantu artisan, yakni orang yang membantu mengerjakan gambar secara teknis konsep lukisan, biasanya dipakai untuk meningkatkan produktivitas pelukis.
"Saya tidak perlu artisan. Semua saya kerjakan dengan tangan sendiri. Mulai dari membersihkan kuas sampai mencampur warna di atas kanvas. Tidak mau menyuruh orang lain," katanya saat ditemui di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya maunya garis ke utara, dia ke selatan bagaimana? Kecuali kalau memang lukisan itu bisa ditiru. Saya mengulangi coretan sendiri saja sulit, apalagi orang lain yang melakukan. Saya akan berhentikan kuas di kanvas pada saat itu sesuai keinginan hati. Hati saya bilang berhenti, saya berhenti," ujarnya.
***
Pekik juga anti melukis berdasarkan pesanan atau permintaan orang, kemudian dibayar dari hasil tersebut. Berulang kali ia tegaskan, dia tidak mencari uang dari melukis.
Menurut bapak 8 anak itu, seorang seniman tidak ditakdirkan untuk bekerja, melainkan berkarya. Bukan pula mengikuti keinginan pasar atau berkarya sesuai permintaan orang lain.
"Saya kuda balap jangan sampai dipakai ngandong (kereta kuda wisata, sebutan lain delman). Karya seni tidak saya pakai untuk mengisi perut, tapi mahkota harga diri sebagai seniman," kata Pekik.
Tahun ini, sang maestro belum membuat lukisan bertema kritik sosial seperti yang sebelumnya ia lakukan. Hanya ada satu karya yang mirip dengan rupa dirinya sendiri. Dibuat hanya 15 menit pada momen melukis bersama di tempat salah satu pengusaha rokok di Jawa Timur.
Pekik tak peduli apapun yang dikatakan orang lain terhadap karya maupun produktivitas sebagai seniman. Daripada melakukan dengan terpaksa, lebih baik mempertahankan idealisme dan orisinalitas.
"Saya tidak mau mengomentari bagaimana seniman lain berkarya. Saya punya gaya sendiri, mereka punya gaya sendiri. Saya inginnya begini, mereka begitu. Terserah saja," ujarnya.
(utw/utw)











































