Bagi Djokopekik, Makanan Kuda Lebih Lezat Dari Sayur Lodeh

Di Balik Pameran Tunggal Djokopekik (6)

Bagi Djokopekik, Makanan Kuda Lebih Lezat Dari Sayur Lodeh

- detikHot
Jumat, 11 Okt 2013 14:37 WIB
Bagi Djokopekik, Makanan Kuda Lebih Lezat Dari Sayur Lodeh
Djokopekik di depan karyanya (Firda Puri Agustine/detikHOT)
Jakarta - Djokopekik lahap menyantap hidangan makan siang berupa sayur bening dan dendeng balado di pojokan teras Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2013).

Setelah habis, seniman berusia 75 tahun itu rupanya masih ingin mencicipi asinan dan buah-buahan. Diambil-lah sepiring melon, pepaya, serta semangka.

"Saya suka buah dan sayuran," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal makanan, Pekik mengaku suka semua. Terutama sayur lodeh dan masakan sang istri tercinta. Waktu muda, tak jarang dia minta tambah nasi. Tapi, masuk usia senja, nafsu makannya makin menurun.

Bukan rasa makanan yang berubah jadi tidak sedap. Bukan pula sedang menderita sakit. Pria kelahiran Purwodadi, tahun 1938 itu menduga lantaran pengaruh usia, juga merasa bosan terlalu sering makan enak.

"Anehnya makin tua nafsu makan berkurang. Saya mengoreksi diri sndiri. Sudah dikasih makanan melimpah, kok malah manja enggak mau makan. Kadang, tidak bagus juga kalau hidup terlalu enak," ujarnya.

Sejenak, Pekik mengingat masa lalu. Saat dimana ia kelaparan di penjara. Segelas jagung mentah atau bulgur, sejenis makanan kuda, menjadi makanan paling lezat sedunia.

Dalam perenungan diri sendiri, dia sadar bahwa kadang penderitaan itu baik. Melatih sabar, juga rasa syukur terhadap suatu hal terkecil sekalipun. Semangkuk sayur lodeh bisa jadi tak berarti apa-apa saat kini ia sudah mengecap kehidupan yang layak.

"Dulu itu dikasih makanan buat kuda (bulgur) yang sudah banyak ulat paling lezat karena saking saya kelaparan. Saya mensyukuri betul masih bisa makan hari itu, tak peduli apa jenis makanannya. Kalau sekarang, karena sudah biasa makan enak, sayur lodeh enaknya ya biasa saja," kata Pekik.

Perubahan lain terjadi saat kini ia punya banyak uang. Kenikmatannya berbeda antara dapat uang hari ini dengan upah menjahit kecil-kecilan saat dirinya dikucilkan banyak orang.

"Sekarang terima duit enggak terasa karena kan saya enggak lihat langsung, tapi di transfer bank. Dulu waktu saya menjahit, dapat orderan, dapat uang, wah senangnya bukan main," ujarnya.

Meski demikian, Pekik bukan tidak mensyukuri keadaan sekarang yang jauh lebih baik. Buktinya, dia melarang anak-anak untuk mengikuti jejaknya menjadi seniman karena takut mereka bakal ikut sengsara.

Kakek 17 cucu ini justru menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang jauh lebih tinggi. Ada yang berhasil menjadi akademisi, pegawai negeri, juga dosen kesenian.

"Kalau tujuannya mencari uang, saya melarang mereka jadi pelukis. Mereka berhak menjadi orang yang lebih baik dari saya," kata Pekik.

Menjelang usia 76 tahun, seniman LEKRA ini tak punya keinginan apa-apa. Hanya menikmati, mensyukuri, dan menjalani sisa hidup yang diberi oleh sang pencipta.

"Saya ya begini-begini saja. Tidak punya keinginan apa-apa, tidak mengharap apa-apa. Seperti air mengalir saja. Menikmati hidup dan selalu bersyukur," ujarnya.


(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads