Ramalan Kasus Mantan Ketua MK Akil Mochtar Dalam Lukisan Djokopekik

Di Balik Pameran Tunggal Djokopekik (3)

Ramalan Kasus Mantan Ketua MK Akil Mochtar Dalam Lukisan Djokopekik

Firda Puri Agustine - detikHot
Jumat, 11 Okt 2013 11:20 WIB
Ramalan Kasus Mantan Ketua MK Akil Mochtar Dalam Lukisan Djokopekik
Djokopekik di depan karyanya (Firda Puri Agustine/detikHOT)
Jakarta -

Tak ada yang menyangka ketika mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi pekan lalu. Namun sepertinya ini sudah 'diramalkan' Djokopekik dalam sebuah lukisan yang ia buat setahun lalu.

Karya berjudul 'Pawang Pun Kesurupan' yang dilukis pada 8 Desember 2012 menggambarkan wajah peradilan di Indonesia yang carut marut dimana para hakim ikut serakah memakan apa saja yang ada di depannya, termasuk duit rakyat.

Dalam lukisan berukuran 150 X 2000 centimeter itu ditampilkan gambaran sejumlah hakim yang berada di acara persidangan. Ada hakim yang makan bangkai ayam, memegang tikus, dan bermesraan dengan wanita di kursi kebesarannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Lukisan yang selesai dikerjakan dalam 5 hari ini menjadi semacam tagline pameran tunggal Djokopekik bertajuk 'Zaman Edan Kesurupan' di Galeri Nasional selama satu minggu sejak Kamis, 10 Oktober 2013 hingga 17 Oktober 2013.

Pekik bilang, dirinya bukanlah seorang peramal. Lukisan itu hadir dari sebuah perenungan batin akan nasib bangsa yang menurutnya lebih dari sekedar edan, melainkan sudah kesurupan.

"Saya bukan peramal. Saya hanya merenungi zaman dan dari perenungan itu pasti terjadinya akan begini. Kalau lukisan itu benar-benar menggambarkan keadaan yang sekarang, berarti perenungan saya benar," kata Djokopekik saat ditemui di Galeri Nasional, Selasa (8/10/2013).

Bukan kali ini saja ia seolah meramal masa depan Indonesia. Seri lukisan Berburu Celeng yang menggambarkan keserakahan pemimpin hingga akhirnya tumbang dibuat sekitar dua bulan sebelum lengsernya Presiden Soeharto, Mei 1998.



Inspirasi lukisan Pekik berasal dari perasaannya sendiri. Pergolakan batin melihat keadaan negeri yang dianggap makin tak karuan. Tak pernah lukisan tersebut dijiplak dari bacaan atau aliran seni orang lain.

"Saya tidak pernah baca referensi atau nyontoh lukisan orang. Sesuatu yang menyakitkan hati, mengendap di hati, perasaan itulah yang mengeluarkan tema dan inspirasi. Perasaan yang menuntun tangan saya," ujarnya.

Jika saat ini begitu banyak generasi muda yang menyukai karya lukisannya, kakek 17 cucu itu hanya bisa bersyukur. Ternyata, pesan yang ingin ia sampaikan mengenai penonton.

"Lukisan saya pengganti bahasa komunikasi saya ke orang lain. Bahasa komunikasi ya bahasa lukisan. Kalau dibuat dari hati, maka akan sampai ke hati juga," kata Pekik.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads