Djokopekik Mengolah Dendam Jadi Karya Seni Mengagumkan

Di Balik Pameran Tunggal Djokopekik (1)

Djokopekik Mengolah Dendam Jadi Karya Seni Mengagumkan

- detikHot
Jumat, 11 Okt 2013 09:40 WIB
Djokopekik Mengolah Dendam Jadi Karya Seni Mengagumkan
Djokopekik di depan karyanya (Firda Puri Agustine/detikHOT)
Jakarta - "Djokopekik gelar pameran tunggal lagi!" Ini jelas dinantikan banyak pihak yang akrab dengan dunia seni rupa. Betapa tidak, seniman yang dijuluki Pelukis Satu Milyar itu memang telah lama dinantikan karya-karyanya.

Belum lagi kali ini di pameran yang bertitel 'Zaman Edan Kesurupan', salah satu lukisan Pekik cukup dekat dengan kejadian tertangkapnya Akil Mochtar, salah satu Hakim Konstitusi. Ramalankah?

Bukan hanya soal karyanya, kehidupan Djokopekik yang sempat dipenjara tanpa diadili di masa orde baru juga menarik ditelaah kembali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia adalah satu dari mungkin ribuan orang yang jadi korban ketidakadilan pasca peristiwa 1965. Simak liputan khusus detikHOT berikut ini seputar kehidupan Djokopekik dan karya-karyanya.

***

Sepasang mata lelaki tua tampak berkaca-kaca. Dia duduk di pojokan sembari menghisap rokok Dji Sam Soe yang berbungkus hitam, ia mengingat kembali sejarah hidupnya. Sejarah yang masih terasa pahit meski lebih dari 50 tahun berlalu.




Pria ini Djokopekik. Di sejumlah tulisan namanya sering disebut Djoko Pekik. Namun di buku kuratorial pameran 'Zaman Edan Kesurupan', semua penulis mulai budayawan Sindunatha sampai pengamat sejarah menulis namanya dengan Djokopekik.

Apapun, dia lebih sering dipanggil orang dengan nama 'Pekik'. Usianya 75 tahun. Masih tampak bugar walau berperawakan kurus.

Hanya sesekali dia tersenyum. Tak jarang melempar canda. Padahal, dibalik senyum itu, tersimpan sejuta cerita kelam. Siksaan fisik di penjara orde baru pernah ia alami tanpa sekalipun diadili.

Sebabnya, Pekik menjadi anggota Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA). Lembaga yang disebut-sebut sebagai organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada rezim Soeharto, hampir semua seniman LEKRA ditangkap, dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh. Beruntung, Tuhan memberi Pekik kesempatan hidup lebih lama.

"Saya ingat betul bagaimana rasanya gelap di penjara, kedinginan, kelaparan, disuruh jalan jongkok dengan kepala diinjak, punggung bengkak, badan semua berdarah. Sengsara sekali," kata Djokopekik ketika ditemui di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2013) lalu.

***

Pekik tak akan pernah lupa tanggal 8 November 1965. Hari ketika untuk pertama kalinya dikurung dalam jeruji besi.
Tujuh tahun mendekam bukan waktu yang singkat. Apalagi, tanpa tahu dimana letak kesalahannya. Pekik merasa ia bukan komunis. Bukan pula bagian dari PKI.

Tahun 1972, pria yang dulu aktif di Sanggar Bumi Tarung ini dibebaskan dari penjara di Yogyakarta. Tapi, kebebasan yang ia dapat berbeda dengan makna kebebasan itu sendiri.

Hak politiknya dicabut, kartu tanda pengenal juga ditandai khusus sebagai mantan tahanan politik. Belum lagi dengan masyarakat yang memandang sebelah mata. "Saya di blacklist selama kurang lebih 20 tahun. Orang memandang saya begitu hina," ujarnya.

***

Dengan label hitam tersebut, praktis Pekik tak diterima bekerja dimana-mana. Untuk menyambung hidup serta menafkahi keluarga, ia menjadi tukang jahit kecil-kecilan di bilangan Wirobrajan, Yogyakarta.

Penghasilan yang didapat hanya seperak dua perak. Namun, tetap disyukuri. Baginya, bisa melihat matahari saja sudah luar biasa. Apalagi, bisa makan dari uang sendiri.

"Saya lupa berapa upah saya waktu itu. Tapi, itu ra (tidak) penting. Sing penting iso mangan bahagiane luar biasa (yang penting bisa makan bahagianya luar biasa)," kata Pekik dalam bahasa Jawa kental.



Disela profesi sebagai penjahit, kakek 17 cucu ini tak berhenti menorehkan cat di atas kanvas. Melukis adalah jiwanya. Jiwa seni yang tetap hidup, yang memberi kenikmatan lebih dari apapun. Bahkan, tak ternilai rupiah.

"Kalau saya mau, waktu itu saya bisa saja jual lukisan buat makan. Tapi, prinsip saya tidak begitu. Saya tidak mencari kenikmatan hidup dari melukis, tapi kepuasan batin," ujarnya.

***

Seiring waktu berlalu, masih adakah rasa sakit hati? Pekik mengangguk pelan. Jauh di dasar hatinya, luka itu masih terasa. Dendam pun masih ada.

Dia pernah berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat dendam ini akan terbalas. Bukan dengan membenci, tapi melalui karya yang sanggup membelalakkan mata dan menoreh kagum.

"Saya hanya manusia biasa. Dendam batin pasti ada, tapi saya ungkapkan dalam karya. Diolah jadi seni yang enak dilihat dan dinikmati," kata Pekik.


(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads