Setjangkir Kopi dari Plaja

Menjelajahi Akar Budaya dan Konflik (5)

Setjangkir Kopi dari Plaja

- detikHot
Senin, 07 Okt 2013 11:33 WIB
Setjangkir Kopi dari Plaja
(dok. Astrid Septriyana)
Jakarta - Cangkir kopi ini istimewa, menyimpan sejuta kenangan. Menyelipkan rindu tak terkatakan pada yang tercinta. Setjangkir Kopi dari Plaja, dipentaskan di hadapan tiga puluh orang penonton yang menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya.

Pementasan ini merupakan salah satu kegiatan dalam program Pekan Budaya & Konflik di Goethehaus. Setibanya di Goethehaus, pengunjung yang sebelumnya telah mendaftar untuk menonton pertunjukkan puppet diberangkatkan dengan bis. Masing-masing peserta dikalungi tanda peserta bertuliskan 'Museum Pahit Manis'. Tepat pukul tiga rombongan berangkat.

Ternyata bis yang membawa peserta itu, tak perlu menempuh jarak yang jauh. Masih di seputar Menteng, Jakarta Pusat, peserta memasuki sebuah rumah yang dijelaskan sebagai museum barang-barang yang ingin dilupakan - sekaligus diceritakan. Saat masuk, ada beragam barang dari yang kuno hingga yang kekinian. Lego, tiket bioskop, kamera, hingga cangkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Puas melihat-lihat, pengunjung dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Pemandu museum terus menjelaskan makna dibalik barang-barang itu. Hingga lampu tiba-tiba padam, dan boneka pertama muncul dari kegelapan. Alunan cerita yang membawa geliat perasaan haru, sedih, tapi juga tawa.

***

Ini merupakan pertunjukan teater boneka dari Papermoon Puppet Theatre, yang berdiri sejak tahun 2006, di Yogyakarta. Pendirinya adalah Maria Tri Sulistyani, ia membesarkan panggung boneka ini bersama Iwan Effendi.

"Papermoon kan artinya bulan kertas, bulan yang dibuat dari kertas," ujar Maria. "Kami hanya ingin menciptakan sesuatu yang istimewa dari sesuatu yang sederhana. Menciptakan bulan, dari kertas."

Kelompok teater boneka ini, terdiri dari enam orang awak yang ada di dalam tim inti. Namun kala membutuhkan pemain tambahan, mereka biasanya mengadakan audisi pemain atau melakukan kolaborasi dengan seniman lain.

Maria menjelaskan bahwa pementasan berjudul 'Setjangkir Kopi dari Plaja', pernah dipentaskan pada Desember 2011 lalu di sebuah toko barang antik, di Yogyakarta.

"Goethe tertarik dengan pementasan ini, lalu kita diundang untuk pentas dalam rangkaian Budaya dan Konflik karena memang kebetulan temanya pas."

***

Perlu diketahui, bahwa Museum Pahit Manis yang menjadi tempat pementasannya kali ini merupakan sebuah bagian narasi dari pementasan ini. Tempat ini aslinya merupakan rumah dari Kepala Program Budaya Goethehaus.

Ini dibuat sedemikian rupa, agar penonton tanpa sadar sebenarnya telah ikut menjadi bagian dari pertunjukan teater ini. "Perencanaan karya ini diboyong ke Jakarta sudah sejak tahun lalu. Dan karena konsepnya memang site specific performance, bukan pertunjukan di gedung teater, kami mulai menyiapkan konsep adaptasi pementasan ini untuk ditampilkan di jakarta sejak 3 bulan lalu."

Kisah yang diangkat ini, dituliskan oleh Maria. Ia bercerita bahwa inspirasi cerita dari Papermoon Puppet Theatre bisa datang dari mana saja, karena ia banyak terinspirasi dari keseharian. "Kami tertarik dengan kisah sejarah kecil sebenarnya. Bisa tentang sejarah tempat, sejarah benda, atau kisah personal seseorang, tentang masalah sehari-hari. Apapun bisa jadi inspirasi bagi kami, yang jelas Papermoon nggak pingin menggurui orang lain," ujarnya.

Ada beberapa judul cerita yang sudah dilakoni oleh Papermoon Puppet Theatre, diantaranya MWATHIRIKA, Laki-Laki Laut, Si Ahli Kopi, Living Room-Living Space, The Eye of Messenger, SIRDUSKARKUS, IMAGO, No More Waiting dan masih banyak lagi.

Untuk tempat pementasan, kelompok teater ini telah mempertontonkan kreasi seni mereka hingga ke tingkat global. Sebut saja, Korea Selatan, Jepang, Singapore, Malaysia, Perancis, Amerika Serikat dan India.

Menurut Maria, apresiasi yang datang dari kalangan lokal maupun internasional bisa dibilang sama. "Mereka semua sama-sama memberi apresiasi positif. Ya kalau orang Indonesia awalnya bayak yang komentar kalo bonekanya Papermoon itu serem. Enggak lucu bentuknya, tapi lama-lama begitu mereka nonton, biasanya apresiasinya luar biasa menyenangkan," kata lulusan Komunikasi di Universitas Gadjah Mada itu.

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads