Rumah Rieke dan Donny Jadi Pusat Kebudayaan

Mengulik Rumah Rieke Diah Pitaloka (5)

Rumah Rieke dan Donny Jadi Pusat Kebudayaan

- detikHot
Selasa, 01 Okt 2013 14:37 WIB
Rumah Rieke dan Donny Jadi Pusat Kebudayaan
Jakarta - Jauh sebelum menjadi politikus, Rieke sudah malang melintang di dunia hiburan dan menjalani profesi sebagai aktris. Namun bila ditarik lagi ke belakang, studi Rieke ada di bidang sastra Belanda dan Filsafat. Sang suami, Donny Gahral Adian pun bergerak di bidang filsafat sebagai akademisi.

Tak heran aktifitas budaya, tentu banyak mewarnai hari-hari mereka. Sebelum menjadi anggota dewan, Rieke bercerita di rumahnya rutin diadakan pagelaran kebudayaan.

Tepatnya di pendopo rumahnya. "Dulu rutin satu bulan sekali ada pertemuan budaya, diskusi dan panggung budaya disini. Jadi pertunjukkan disana, penontonnya bisa sampai kesini, duduk-duduk disini," ujar Rieke.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Jadi ketika pertunjukkan dilakukan di pendopo rumahnya, para penonton bisa menyaksikan atau mendengarkan apa yang disajikan di pendopo sambil duduk-duduk di rumah induk Rieke.

Ia juga kemudian menunjuk jembatan-jembatan kecil yang ada di tepi rumah induk. "Ini dibuat fungsional, jadi orang-orang bisa duduk disini. Kita enggak perlu sediakan banyak kursi."

Maka, rumah dengan konsep terbuka dalam maksud Rieke adalah baik terbuka secara fisik, maupun menjadi tempat pertukaran wacana seputar budaya dan kemanusiaan.

Kemudian, terpajang sebuah patung Budha dalam ukuran cukup besar. Ini salah satu pajangan yang ada di teras perpustakaan sekaligus ruang kerja Donny. Di salah satu sudut ruangan ini berjejer koleksi botol tua dan barang-barang antik koleksi mereka. Disinilah tempat abu jenazah ikut disimpan.

Meski tak ada batas khusus menuju perpustakaan, ruang kerja Donny terdapat beberapa tumpukan buku. Pak dosen Filsafat ini, juga menghiasi dinding ruang kerjanya dengan karya lukisan yang berkisah tentang Dewi Kesuburan.



Memasuki perpustakaan, pada tiga sisi tembok menjulang rak buku hingga ke pucuk temboknya. Buku-buku yang menjejali rak tadi nampaknya sudah mencapai angka ribuan. "Semua buku disini sudah di-computerised data-datanya. Jadi kalau cari buku tinggal klik. Yang mengerjakan anak Universitas Indonesia," ujar Rieke.

Ditengah ruang perpustakaan yang juga dilengkapi tangga itu, terdapat meja dan sejumlah kursi di sisi-sisinya. Menurut Rieke ruang ini sering dipakai untuk rapat. "Pak Donny sering rapat disini dengan teman-teman NGO." Dari awal membangun rumah, pasangan ini memang telah berpikir harus ada perpustakaan.

Ini karena hobi Donny untuk membaca dan membeli buku dan jumlah buku yang dimiliki juga sudah membludak. Bagi teman-teman mereka yang ingin memperkaya referensi, buku-buku di perpustakaan ini boleh dipinjam untuk dibaca ditempat.



Ruangan favorit bagi Rieke sendiri ada di bagian belakang rumah induk. Ini ia sebut sebagai ruang kerjanya. Dengan satu set kursi tamu dan satu set meja makan, ruang ini dilengkapi dengan lemari antik dan seperangkat komputer.

Di ruangan inilah Rieke banyak membahas isu-isu yang terkait dengan budaya dan politik bersama teman-temannya. "Kalau ada tim saya, saya membahas pekerjaan disini."



(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads