Sirkus Tak Selalu Identik dengan Binatang

Seni Sirkus Masa Kini(1)

Sirkus Tak Selalu Identik dengan Binatang

- detikHot
Jumat, 27 Sep 2013 09:26 WIB
Sirkus Tak Selalu Identik dengan Binatang
Salah satu pertunjukkan Sirkus Bolshoi
Jakarta - Seni pertunjukkan sirkus sudah ada sejak masa Romawi yang dikenal dengan Circus Maximus. Kala itu, atraksinya selalu identik dengan binatang seperti gajah, singa, maupun hewan aneh lainnya dan mampu mengundang pengunjung untuk menikmatinya laiknya piknik.

Namun, kini seni sirkus tak lagi menggunakan hewan sebagai objek utama. Sirkus yang sekarang mulai dikenal dengan istilah sirkus kontemporer, mulai mencampurkan unsur teater, pantomim, dan narasi menjadi sebuah kesatuan.

Tahun ini bertepatan dengan penyelenggaran Bienal Sastra Salihara 2013 hingga Oktober mendatang yang mengambil tema 'Sikus', detikHOT merangkum beragam apresiasi seni sirkus dilihat dari berbagai sisi. Mulai dari ragam teater sirkus kontemporer, sejarahnya, hingga Yayasan Hidung Merah yang mengajarkan sirkus di wilayah pesisir Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

***

Siapa bilang pertunjukkan sirkus selalu tentang hewan? Gajah besar yang memperlihatkan kelihaiannya, kegagahan atraksi akrobat di atas kuda putih, atau singa yang meloncat di dalam lingkaran api.

Anda salah besar, jika mengira seni sirkus era sekarang masih menggunakan binatang. Banyak sirkus kontemporer yang memakai medium hewan digantikan oleh sesuatu benda lainnya. "Itu adalah apresiasi kekinian," kata Direktur Bienal Sastra Salihara 2013, Ayu Utami kepada detikHOT di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jumat (20/9/2013).



Menurutnya, sirkus menjadi metafora yang terpenting pada masa sekarang ini. "Ada pertunjukkan binatang, keceriaan, dan kesedihan. Tema ini pas mensimbolkan Indonesia," katanya.

Ayu menjelaskan jika dunia era masa kini penuh dengan keriuhan dan keterasingan diri. Seperti tahun ini ada perhelatan Miss World di Bali, Miss Muslimah World, fenomena Vickynisasi, dan sebagainya. Ia mempertanyakan untuk apa semua peristiwa tersebut.

Kemudian, tema sirkus menjadi pembahasan utama oleh Komunitas Salihara guna merenungkan keriuhan beragam kejadian. Serta menyaksikan banyaknya perbedaan, tanpa ada rasa menghakimi satu sama lain.

Sirkus pun, kata lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia itu, sudah menjadi tema yang universal. Banyak seniman dari teater, dan perupa yang menggunakan sirkus sebagai objek karyanya.

Seperti sastrawan Daoed Joesoef yang akan membacakan puisinya mengenai keterasingan masa kanak-kanak. Maupun pembacaan puisi karya Pramoedya Ananta Toer tentang fantasi sirkus dalam versinya.

Secara khusus, Salihara pun akan membahas mengenai kisah 'Pancatrantra' dalam sirkus. "Itu suatu serial binatang dari India yang sudah ada sebelum Masehi. Tapi sastra sirkus ini berkembang ke seluruh dunia sampai ke Pulau Jawa," ujar Ayu.

Kisah tersebut dikenal dengan 'Dongeng Seribu Satu Malam'. Isinya mengenai pesan-pesan duniawi yang bermakna tapi kala itu mereka masih menggunakan binatang. Ide cerita ini pun yang mempengaruhi salah satu relief di Candi Borobudur.

"Bahwa di sini, mau ditekankan sirkus itu tak selalu ada binatang dalam tiap atraksinya. Kini, ia bisa diapresiasikan menjadi banyak hal, baik itu di teater, seni rupa, sastra, dan lain-lain," katanya. Karnaval Sirkus Sastra ini secara intens yang akan diperbincangkan oleh Komunitas Salihara hingga akhir bulan mendatang.



(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads