Kena Sindrom 'Mime' Lantaran Terlalu Menjiwai Pantomim

Apa Kabar Pantomim Indonesia? (1)

Kena Sindrom 'Mime' Lantaran Terlalu Menjiwai Pantomim

- detikHot
Rabu, 25 Sep 2013 10:21 WIB
Kena Sindrom Mime Lantaran Terlalu Menjiwai Pantomim
Jakarta - Bergerak tanpa suara, bermodal mimik wajah, inilah dunia pantomim. Menurut Anda membosankan? Nanti dulu. Karena ternyata seni ini begitu luas dan kompleksnya hingga patut disimak.

Bagaimana para seniman yang bergelut di bidang ini pertama kali jatuh cinta hingga 'kecanduaan' gerak pantomim. Bagaimana perkembangannya di Indonesia di tengah kencangnya arus budaya lain yang lebih populer dan lagi digandrungi. Berikut penelusuran detikHOT.

***

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada kalanya para seniman pantomim pertama kali menjajal seni ini cuma coba-coba. Lalu tak sedikit yang malah kesengsem, kecanduan dan lantas terkena sindrom 'mime.

Pelatih pantomim sekaligus anggota Komunitas Pantomim Indonesia Stephanus menjelaskan sindrom mime terjadi ketika seorang pantomimer alias pelaku pantomim terlalu menjiwai dan masuk ke dalam karakter seni tersebut.

"Jadi, kita melihat semua-nya seolah sedang berpantomim. Anak kecil lagi main dilihat sebagai pantomim, atau ada orang benerin mobil, gerakan-gerakannya jadi pantomim. Istilah kami kena sindrom 'mime'," kata pria yang lebih akrab disapa Ciprut ini saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (23/9/2013).

Dia bilang, pantomim pada dasarnya sudah dilakukan setiap orang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Hanya saja tidak disadari.

"Banyak yang menganggap pantomim itu sulit. Padahal, tidak sama sekali. Gerakan sehari-hari yang dilakukan juga secara enggak disadari itu pantomim. Kayak misalnya lagi masak sendiri di rumah. Gerakan-gerakannya sudah pantomim," ujarnya.

Sindrom yang sama juga dirasakan Banon Gautama. Pria berusia 26 tahun ini sampai merasa bingung karena mengetahui ada sesuatu yang aneh pada dirinya.

"Ya sama kayak Ciprut. Apapun yang dilihat oleh mata jadi seperti pantomim. Ternyata yang rasain enggak hanya saya," kata Banon.

Lebih jauh, lulusan Institut Kesenian Jakarta itu menekankan bahwa yang terpenting dari pantomim adalah mampu merasakan sesuatu dengan imajinasi karena dilakukan tanpa suara dan bahasa verbal.

Selain itu, diperlukan kelenturan tubuh untuk bisa menggerakan imajinasi agar pesan yang ingin disampaikan benar-benar diterima oleh penonton.
"Ekspresi, gerak, imajinasi, itu semua berpengaruh terhadap pesan yang ingin disampaikan," ujarnya.


(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads