Bagaimana para seniman yang bergelut di bidang ini pertama kali jatuh cinta hingga 'kecanduaan' gerak pantomim. Bagaimana perkembangannya di Indonesia di tengah kencangnya arus budaya lain yang lebih populer dan lagi digandrungi. Berikut penelusuran detikHOT.
***
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatih pantomim sekaligus anggota Komunitas Pantomim Indonesia Stephanus menjelaskan sindrom mime terjadi ketika seorang pantomimer alias pelaku pantomim terlalu menjiwai dan masuk ke dalam karakter seni tersebut.
"Jadi, kita melihat semua-nya seolah sedang berpantomim. Anak kecil lagi main dilihat sebagai pantomim, atau ada orang benerin mobil, gerakan-gerakannya jadi pantomim. Istilah kami kena sindrom 'mime'," kata pria yang lebih akrab disapa Ciprut ini saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (23/9/2013).
Dia bilang, pantomim pada dasarnya sudah dilakukan setiap orang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Hanya saja tidak disadari.
"Banyak yang menganggap pantomim itu sulit. Padahal, tidak sama sekali. Gerakan sehari-hari yang dilakukan juga secara enggak disadari itu pantomim. Kayak misalnya lagi masak sendiri di rumah. Gerakan-gerakannya sudah pantomim," ujarnya.
Sindrom yang sama juga dirasakan Banon Gautama. Pria berusia 26 tahun ini sampai merasa bingung karena mengetahui ada sesuatu yang aneh pada dirinya.
"Ya sama kayak Ciprut. Apapun yang dilihat oleh mata jadi seperti pantomim. Ternyata yang rasain enggak hanya saya," kata Banon.
Lebih jauh, lulusan Institut Kesenian Jakarta itu menekankan bahwa yang terpenting dari pantomim adalah mampu merasakan sesuatu dengan imajinasi karena dilakukan tanpa suara dan bahasa verbal.
Selain itu, diperlukan kelenturan tubuh untuk bisa menggerakan imajinasi agar pesan yang ingin disampaikan benar-benar diterima oleh penonton.
"Ekspresi, gerak, imajinasi, itu semua berpengaruh terhadap pesan yang ingin disampaikan," ujarnya.
(utw/utw)











































