Rumah yang terletak di kawasan Sentul City itu memang belum hanya dihuni. Di sana tak ada bisingnya perumahan dan bebas untuk mencari ide bagi setiap pekerjaan.
"Setiap saya ke sini, saya suka shalat Subuh di atas rumah keong. Seperti tidak ada sekat antara manusia dan Tuhan," katanya kepada detikHOT Jumat pekan lalu (20/9/2013) di kawasan Sentul City.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tempat ini pun juga merupakan mushola kecil baginya. Ia bisa menghabiskan waktu satu jam ketika di sini. "Paling lama segitu. Saya juga suka tafakur atau bermeditasi di sini," ujarnya.
Jika bermeditasi, Boyke pun suka melakukannya kala pagi maupun malam hari. Udara yang sejuk dan pemandangan yang indah juga menjadi salah satu yang membuatnya betah.
Bagian atas rumah keong tersebut diibaratkan seperti gura Hira ketika Nabi Muhammad SAW menyepi. "Di sini itu seperti gura Hira modern versi sayalah."
Untuk menuju bagian atas rumah keong, bisa didapati dari jendela besar di depan kamar utama. Bentuknya seperti labirin dan menanjak hingga ke atas. Tadinya di sini dicat berwarna merah menyala, tapi baru tahun lalu catnya luntur.
"Saya juga enggak ngerti kenapa luntur. Sempet bingung juga harus gimana, padahal itu bagus banger warnanya. Akhirnya dicat putih sajalah dan yang waterproof," katanya.
Di bagian atas rumah keong ini, juga biasa dilakukan barbeque dengan keluarga terdekatnya. Bahkan, kata Boyke, kawan-kawan anak-anaknya suka bermain di atas rumah keong.
Apalagi ketika malam hari langit cerah dan terlihat bintang-bintang bertaburan. "Indah banget," ujar Boyke.
(utw/utw)











































