Fotografi Sebagai Seni, Instagram Sebagai Wadah Apresiasi

Ketika Warga Jadi Pewarta Foto (4)

Fotografi Sebagai Seni, Instagram Sebagai Wadah Apresiasi

Astrid Septriana - detikHot
Senin, 16 Sep 2013 15:13 WIB
Fotografi Sebagai Seni, Instagram Sebagai Wadah Apresiasi
Jakarta - Dibandingkan dengan ranah seni yang lain, seperti seni lukis misalnya, fotografi memang agak 'terlambat' untuk dikatakan sebagai sebuah cabang seni.

"Memang awalnya fotografi itu enggak diakui ya, karena dianggap cuma merekam. Dianggap mudah, asal jepret. Tapi enggak kaya gitu," kata Mosista Pambudi, Kepala Sekolah di Museum & Galeri Foto Jurnalistik Antara.

Menurutnya, dalam fotografi, seorang fotografer tetap harus melibatkan rasa. Rasa yang membawa unsur seni, seperti momen, komposisi, warna, dan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena tetap banyak yang bisa ditangkap dalam sebuah foto, ada banyak hal yang bisa disuarakan juga disini."

Mosista menjelaskan, ada tiga tahapan dari seorang pemotret. Pertama adalah tahap Innocent, ini dimana sembarang orang yang memiliki kamera, mengambil sebuah foto untuk kesenangan dirinya.

Kedua adalah golongan amatir, dia tertarik dalam dunia fotografi, mengkuti perkembangannya, mengeksekusi konsep fotografi, biasanya golongan ini sudah tahu tujuannya.

Yang terakhir adalah tahap mature, tahap yang paling matang ini mampu menyuarakan isi hati, idealisme dan pemikirannya dalam sebuah foto. "Orang yang menggunakan medium fotografi untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya," jelas Mosista.

Mosista sendiri enggan untuk menyiarkan gambar-gambar yang menunjukkan situasi sulit bahkan mengenaskan. Ia ingin menjadikan fotografi untuk kemanusiaan dan memotivasi jadi manusia yang lebih baik.

***

Di dalam fotografi ada terdapat banyak aliran, seperti foto jurnalistik, foto untuk keperluan modeling juga produk, dan lainnya.
Mosista sendiri tertarik dengan foto jurnalistik, karena ia merasa disini ia memiliki tugas sebagai penyampai pesan dari sebuah kejadian ke ranah masyarakat, sebagai semacam penghubung.

Ia menegaskan soal perspektif foto dalam melihat kejadian, yang akan melibatkan subjektifitas sang fotografer. "Tetap kita selalu berusaha objektif atas kejadian di lapangan, kita tidak boleh memanipulasi. Tapi pasti ini masih melibatkan subjektivitas kita juga."

Menurutnya dalam diri manusia terdapat misi internal, yang lebih sebagai idealisme. Untuk ikut menggaungkan pandangan kita dalam melihat sebuah kasus atau kejadian.

Namun, apa yang diwajibkan sebagai tugas seorang profesional, harus dijalankan. "Kita harus bisa bermain dalam ranah ini," ujarnya.

***

Mosista yang telah menjajal ragam perkembangan teknologi kamera tak gelisah akan lahirnya 'fotografer Instagram'. Fotografi sebagai sebuah seni, tentu memerlukan ruang untuk diapresiasi.

Beberapa fotografer mungkin cukup beruntung untuk bisa membuat buku fotografi juga pameran. Namun, ini hanya terbatas pada lingkungan tertentu, Instagram juga bisa menjadi wadah untuk orang menunjukkan karya foto dan mendapatkan apresiasi.

"Lihat sisi baiknya aja, gunakan ini untuk jaga hubungan. Misalnya, dengan tingkatkan rasa apresiasi loe, ini menjadi bahasa visual. Siapa sih orang yang enggak suka karya diapresiasi, dengan komentar atau dikasih like."

Mosista menekankan perkembangan teknologi baik di fotografi maupun jejaring sosial sebagai sebuah pengikat melalui bahasa visual. "Kita juga harus berlatih memahami jaman, memahami tren dan memahami isu sosial, karena kita kan makhluk sosial," ujarnya.




(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads