Foto dramatis kebakaran akibat arus pendek di pemukiman padat penduduk di Kampung Kalimati, Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta pada 2011 itu terpilih menjadi juara pertama dalam Anugrah Pewarta Foto Indonesia 2012 lalu untuk kategori citizen journalist.
Dian Dwi Saputra yang punya karya memang tak berprofesi sebagai wartawan. Tapi bisa jadi dia dengan sigap menjepretkan kameranya saat peristiwa terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Mosista, orang awam sekalipun sepantasnya memahami sedikit elemen pemberitaan dan etika jurnalistik. Kenapa sebegitu pentingnya soal etika ini?
Ini agar setiap momen yang hadir tidak hilang begitu saja.
"Untuk mendapatkan momen yang baik mereka harus berada di tempat dan peristiwa yang tepat," kata Mosista.
***

Memang untuk mendapatkan kejadian yang tepat pada waktu yang tepat juga tidak mudah bahkan kecil juga kemungkinannya.
"Menjadi orang yang tepat di waktu dan tempat yang tepat sangat sulit. Karena kejadian bisa terjadi begitu saja," kata Mosista. Misalnya, siapa sangka jembatan Kutai Kartanegara suatu saat akan roboh?
Hal-hal yang sifatnya lebih spontan, di luar perencanaan sekaligus jadi saksi mata sebuah kejadian yang nilainya seringkali sangat tinggi.
"Kantor berita kadang enggak pikirkan soal gengsi, yang penting dapat gambar. Ini akan ditelusuri terus ke masyarakat, kira-kira siapa yang mengambil gambar dari kejadian tersebut," Kata Mosista.
Jikapun kualitas foto yang dihasilkan warga pewarta foto tidak sebaik yang diharapkan sebenarnya masih bisa dimaklumi. Karena tak jarang mereka mengambil gambar melalui kamera di ponsel beresolusi rendah macam dengan ponsel.
"Tapi tetap, yang di foto jurnalistik kalau enggak ada orang lain yang punya, itu hebat. Yang penting dia dapat momennya."
Lalu apakah karya foto profesional dan warga biasa bisa bersinggungan? Ya, tentu saja.
Dan Gillmor Seorang penulis bidang teknologi dan direktur Pusat Digital Media Kewirausahaan di jurusan Jurnalisme dan Komunikasi di Arizone State Unversity, Amerika Serikat mengatakan munculnya jurnalisme warga ini bisa jadi suatu saat malah akan jadi mainstream.
"Ini bukan berita baik bagi para pewarta foto profesional, yang memiliki kemungkinan lebih kecil untuk berada pada satu kejadian dibandingkan masyarakat secara umum," kata Gilmor menjelaskan.
"Tapi dengan ini kita akan memiliki media yang lebih murni dan lebih baik dari sebelumnya."
Nah, untuk menghindari bentrok, harus ada batasan wilayah yang cukup jelas antara warga pewarta foto dan pewarta foto profesional. "Masyarakat harus tahu bahwa gerakannya tak boleh sama dengan fotografer profesional." Jika sekali hubungan baik bisa dijaga, malah bisa saling menguntungkan.
(utw/utw)











































